Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #73

Akhir Sebuah Kebisuan

Sarapan pagi itu berlangsung dalam suasana yang hangat, tetapi juga dipenuhi kerinduan yang sulit disembunyikan.

Sejak Almira dan Erdoğan tiba, Hilmiye hampir tidak melepaskan Selim dari pandangannya. Berkali-kali ia menyentuh pipi cucunya, merapikan selimutnya, lalu kembali tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Ketika akhirnya ia memeluk Almira, pelukannya terasa lebih erat dari biasanya. Seolah-olah selama beberapa bulan terakhir, ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan kepada menantunya itu, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.

"Selamat datang, kızım."

Almira membalas pelukan itu. "Terima kasih, Anne."

Setelah sarapan, Almira kembali ke kamar di lantai atas untuk beristirahat. Perjalanan pagi itu cukup melelahkan, terlebih tubuhnya belum sepenuhnya pulih setelah melahirkan. Selim juga kembali tertidur setelah terbangun beberapa saat untuk menyusu.

Menjelang siang, ketika cahaya matahari masuk melalui celah tirai dan membentuk bayangan panjang di lantai kayu, pintu kamar diketuk pelan.

Almira yang sedang duduk di sisi tempat tidur menoleh. Hilmiye berdiri di ambang pintu.

"Hilmiye Anne?"

"Boleh aku masuk?"

"Tentu."

Hilmiye masuk dan menutup pintu perlahan. Erdoğan sedang berada di lantai bawah, berbincang dengan salah seorang kerabat keluarga yang kebetulan datang berkunjung.

Hilmiye berjalan mendekati tempat tidur bayi, memandang Selim yang masih tertidur. Kemudian ia menoleh kepada Almira.

"Terima kasih sudah mau mengunjungiku."

Almira tersenyum. "Harusnya aku yang berterima kasih karena Anne sudah menunggu kami."

Hilmiye menggeleng pelan. "Harusnya aku yang datang ke Istanbul. Aku bahkan belum sempat menjengukmu setelah kau melahirkan."

"Tak apa, Hilmiye Anne." Almira menggeser tubuhnya sedikit agar memberi ruang bagi ibu mertuanya untuk duduk. "Lagipula, aku belum pernah ke Bursa. Aku senang sekali bisa berkunjung ke sini."

Hilmiye tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera memudar. Ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menatap Almira dengan pandangan yang lebih serius.

"Erdoğan tidak mengatakan alasan aku berada di sini?"

Almira menggeleng. "Tidak."

Hilmiye menarik napas perlahan. Pandangan matanya kembali jatuh kepada Selim.

"Aku tahu dia tidak akan mengatakan apa-apa sebelum aku sendiri yang memutuskan untuk bicara."

Almira tidak menjawab. Ada sesuatu dalam suara Hilmiye yang membuatnya memilih diam dan menunggu.

Beberapa detik berlalu.

"Hilmiye Anne…"

"Ya, kızım. Bicaralah."

Almira menunduk. Jari-jarinya saling meremas di atas pangkuan.

"Maaf. Aku…" Kalimatnya terhenti.

Hilmiye segera meraih tangannya. "Tidak, kızım. Jangan meminta maaf."

"Tapi semua yang terjadi karena…"

"Kamilah yang harus meminta maaf," potong Hilmiye lembut. "Kepadamu. Kepada Erdoğan. Kepada kalian berdua."

Almira menggeleng. "Jangan katakan seperti itu, Anne." Matanya mulai berkaca-kaca. "Tanpa orang tua, kami tidak akan pernah bertemu."

Ia tersenyum kecil, meski air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Erdoğan adalah… hal terindah dalam hidupku."

Hilmiye menatap Almira dengan penuh kasih.

"Kızım…"

"Memang tidak mudah," lanjut Almira. "Bahkan mungkin terlalu banyak hal yang harus kami hadapi sejak awal. Tapi kami bisa melewatinya."

Hilmiye mengangguk pelan. Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya. Ia segera mengusapnya dengan ujung jemari.

"Benar. Semua memang tidak mudah."

Ia menggenggam tangan Almira lebih erat.

"Dan aku bahagia kaulah yang mendampingi putraku menghadapi semuanya."

Almira membalas genggamannya.

Lihat selengkapnya