Ömer berdiri diam sesaat di trotoar, memandang gerbang Çırağan Palace yang berdiri megah di depannya. Angin malam Bosphorus berembus pelan, memainkan anak-anak rambutnya.
Ia membetulkan kerah jaket kulitnya yang mulai mengelupas di bagian tepi, lalu melangkah masuk ke halaman depan istana peninggalan Ottoman itu.
"Sialan. Kenapa dia memilih tempat begini," maki Ömer pelan sambil menatap sorot lampu kekuningan yang menyinari fasad gedung. "Pria kaya sombong itu tidak pernah berubah."
Seorang penjaga berseragam dengan earpiece di telinga menatapnya dari atas ke bawah saat Ömer mendekati pos pemeriksaan.
"Ömer Demir. Saya ada janji," kata Ömer dingin.
Penjaga itu memeriksa tablet di tangannya, lalu mengangguk tanpa mengubah ekspresi.
"Yaşaran Bey sudah menunggu di Tuğra Restaurant. Silakan masuk."
Ömer tidak membalas. Ia segera melangkah menuju pintu utama. Seorang doorman mengangguk hormat dan membukakan pintu untuknya.
Seketika, suasana berubah. Bau knalpot dan udara laut yang asin berganti menjadi aroma kayu cendana, lilin lebah, dan parfum mahal. Lampu kristal besar menjuntai dari langit-langit berornamen emas, memantulkan cahaya di atas lantai marmer yang mengilap.
Seorang maître d' berjas ekor burung menyambutnya di depan koridor menuju Tuğra Restaurant.
"Demir Bey?"
"Ya," jawab Ömer singkat.
"Yaşaran Bey sudah menunggu di ruang privat. Mari."
Ömer mengangguk lalu mengikuti kepala pelayan itu.
Mereka melewati koridor panjang berkarpet tebal yang meredam langkah kaki Ömer. Di ujung lorong, seorang pria berjas gelap sudah menunggu. Ia membuka pintu kayu tebal di hadapan mereka.
Ömer melangkah masuk.
Erdoğan Yaşaran telah duduk di dalam. Di depannya terdapat meja bundar dengan taplak putih dan peralatan makan perak. Ia tidak langsung menoleh. Tangannya mengangkat cangkir, menyesap sedikit, lalu meletakkannya kembali. Gerakannya tenang dan terukur.
Ömer berjalan menuju kursi di hadapan Erdoğan. Ia duduk dengan tegap, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman berada di restoran semewah itu.
"Pesan apa pun yang kau inginkan, Komiser," kata Erdoğan.
"Kopi saja," balas Ömer singkat.
Pelayan di dekat mereka mengangguk lalu keluar dari ruangan.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.
Pelayan kembali membawa nampan perak. Di atasnya tersaji kopi dalam cangkir keramik berukir, beberapa potong lokum dalam wadah tembaga, serta segelas air putih.
Ömer mengangkat satu alis ketika nampan itu diletakkan di hadapannya.
Ia hanya memesan kopi. Entah sejak kapan satu cangkir kopi membutuhkan satu set penyajian seperti itu.
Setelah pelayan pergi, barulah Ömer membuka suara.
"Jadi, apa tujuanmu meminta bertemu?" tanyanya sinis. Ia masih mengingat pertemuan terakhir mereka yang berakhir buruk.
Erdoğan tidak menjawab. Tangannya bergerak ke kursi di sebelahnya, mengambil sebuah map cokelat, lalu meletakkannya di atas meja.
"Gunakan dengan semestinya."
"Apa itu?" tanya Ömer tanpa mengalihkan pandangan dari Erdoğan.
"Yang kau cari selama bertahun-tahun," jawab Erdoğan. "Berkas bukti kasus Ayşe Hassan."
Bahu Ömer menegang. Sesaat, ia hanya terdiam. Kemudian tangannya meraih map itu dan mengeluarkan isinya.
Lembar pertama bertuliskan Berkas Acara Pemeriksaan.
Ömer mendengus.
"Kalau cuma ini yang kau punya, tidak perlu repot-repot. Aku sudah memilikinya."
"Tidak," balas Erdoğan tenang. "Itu BAP paling awal. Kau akan menemukan nama penumpang kedua di sana."
Tangan Ömer berhenti. Matanya bergerak cepat mengikuti baris-baris tulisan di hadapannya.
"Ini gila," umpatnya tertahan. "Bahkan yang di tanganku juga tidak asli?"
Ia segera membuka lembar berikutnya.
Berkas aset Hacıoğlu sebelum dan sesudah akuisisi. Salinan rekaman CCTV di Ormanlı Yolu.
Semakin banyak yang dibaca, semakin kaku wajah Ömer.
"Ini saja?"
Ia kembali memeriksa isi map hingga menemukan sebuah kotak kecil berisi micro SD.
Mata Ömer melebar.
Ia tahu benda itu meski belum pernah melihatnya. Micro SD milik Mert Haçıoğlu yang ditemukan Almira.
Sesaat, rasa kecewa melintas ketika ia menyadari Almira memilih menyerahkannya kepada Erdoğan lebih dahulu.
Ömer segera menekan perasaan itu.
"Kau pasti bisa menebak isinya," kata Erdoğan.
Ömer tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada benda kecil itu.
"Ada beberapa file yang kuhapus dan tidak berhubungan dengan kasus ini," lanjut Erdoğan. "Jangan mencoba memulihkannya. Itu saja yang kuminta darimu."
Ömer tahu apa yang dimaksud pria itu.
Ia mengangkat kepala.
"Kenapa kau menyerahkan semua ini kepadaku? Dan kenapa sekarang?"
Erdoğan menyandarkan punggungnya. Tatapannya tetap tenang.
"Karena Almira mempercayaimu." Ia berhenti sejenak. "Dan karena sekarang saatnya."
Dada Ömer berdetak lebih cepat ketika nama Almira disebut. Ada sesuatu yang hangat sekaligus menyesakkan di dadanya, tetapi ia segera menyingkirkannya.
Mereka kembali terdiam.
Erdoğan kemudian mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Ömer meliriknya. Di sana tertulis sebuah nama dan alamat.
"Ilyas? Meggen, Swiss?"
Erdoğan mengangguk.
"Dia berada di sebuah rumah yang terdaftar atas nama Almira Yaşaran," tambahnya. "Lakukan dengan rahasia. Jika kau tidak ingin kehilangan kunci dari semuanya."
Ömer menatap kertas itu beberapa detik sebelum mengambilnya dan memasukkannya ke saku.
"Kuserahkan kasus ini padamu, Komiser." Erdoğan bangkit dari duduknya. "Semoga berhasil."
Ia berbalik dan melangkah menuju pintu.
Ada keraguan sesaat dalam diri Ömer.
Kemudian ia memanggil.