Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #75

Jalan Yang Berbeda

Cahaya matahari siang masuk melalui jendela yang tirainya setengah terbuka.

Almira tetap duduk tegak di tempatnya. Jemarinya mengusap setetes air mata yang jatuh di pipinya.

"Satu kalimat. Sudah cukup bagiku untuk memutuskan apa yang harus kulakukan," kata Osman Yaşaran. Raut wajahnya tetap tenang.

"Apa Baba tidak bertanya pada Erdoğan?" tanya Almira lirih. "Apakah itu yang Erdoğan inginkan?"

"Aku tidak perlu bertanya pada putraku apa yang harus kulakukan," balas Osman. Kali ini, suaranya terdengar lebih dingin.

Punggung Almira menegang mendengar tekanan dalam nada suara itu.

"Kau tahu bagaimana keluarga Yaşaran bisa bertahan selama beberapa generasi? Bagaimana kami bisa mempertahankan kendali selama ini?"

Almira menatap Osman tanpa menjawab.

"Kami melakukan segalanya."

Napas Almira tertahan.

"Satu-satunya hal yang menghentikanku melakukan segalanya adalah kehamilanmu."

Almira terhenyak. Seketika, ingatannya kembali pada hari ketika ia diculik. Ia tiba-tiba dilepaskan ketika sudah merasa tidak ada kesempatan untuk melarikan diri.

Selama ini Almira tidak pernah memiliki bukti siapa yang berada di balik penculikan itu. Namun sekarang, kalimat Osman membuat potongan-potongan itu menyatu.

Jadi benar.

Saat itu, ia dilepaskan hanya karena kehamilannya.

Jika ia tidak mengandung Selim, mungkin nasibnya akan sama seperti Ayşe.

Almira mengepalkan kedua tangannya di pangkuan. Rasa takut yang sejak tadi menahannya perlahan berubah menjadi kemarahan.

Osman melirik sekilas gerakan itu, lalu kembali menatap Almira dengan wajah datar.

"Anda harus berhenti, Osman Baba," kata Almira. Suaranya masih bergetar, tetapi kali ini lebih kuat. "Anda tidak bisa lagi bersikap seolah Anda Tuhan."

Dada Almira naik turun.

"Lihatlah keadaan Anda sekarang."

Osman mengernyit.

"Di tengah semua kemewahan ini, Anda duduk sendirian. Tidak ada istri Anda yang mendampingi. Tidak ada putra yang Anda bela berdiri di samping Anda."

Untuk pertama kalinya sejak Almira memasuki ruangan itu, wajah Osman menegang.

"Mereka ada di sisi saya, Osman Baba."

Almira berhenti sejenak, menarik napas dalam seakan melepaskan rasa sakit di dadanya.

"Orang tua seharusnya bertanya kepada anaknya apa yang mereka inginkan," katanya lebih pelan. Ada kesedihan dalam suaranya.

Ia teringat kembali perjalanan panjang yang membawanya hingga ke negara ini. Pernikahannya dengan Erdoğan. Semua rahasia yang terbongkar satu demi satu. Semua misteri yang selama ini ia coba pecahkan.

"Karena seorang anak juga memiliki hak untuk bersuara. Untuk memilih. Untuk mengatakan tidak. Untuk mengatakan…"

Napas Almira tercekat. Wajah Erdoğan terlintas di matanya.

"Bukan itu yang diinginkan."

Air mata kembali mengalir di pipinya. Almira segera menghapusnya.

Ia kemudian bangkit berdiri.

"Saya harap Anda akan menemukan kedamaian, Osman Baba."

Lihat selengkapnya