Dua bulan lalu, duniaku runtuh bersama bunyi melengking dari layar monitor tanda vital di ruang ICU. Aku tidak akan pernah melupakan sensasi itu. Paru-paruku terasa penuh oleh cairan, tenggorokanku seperti dicekik dari dalam, dan udara berubah menjadi musuh paling mematikan. Setiap kali mencoba menarik napas, aku merasa sedang bernegosiasi dengan malaikat maut.
Oksigen menjadi barang mewah yang paling kubutuhkan. Aku hanya bisa menatap langit-langit ruang isolasi yang putih kekuningan, mendengarkan desis konstan dari tabung oksigen yang menyokong sisa hidupku.
Satu per satu orang di sekelilingku tumbang. Jerit kepanikan tak pernah berhenti bergemuruh dari balik sekat tipis. Kadang pasien yang merintih kesakitan, kadang para perawat yang melangkah kelelahan dengan pakaian hazmat lengkap mereka. Instruksi medis diteriakkan dari balik masker dan pelindung wajah, lalu disusul tangisan yang selalu membuat bulu kudukku meremang.
Denyut berhenti. Tempat tidur kosong. Kemudian, pasien lainnya datang. Begitu terus. Nama-nama yang sempat kudengar pada malam hari menghilang keesokan paginya.
Aku nyaris menjadi salah satu angka di dalam laporan berita sore. Aku nyaris mati.
Ketika akhirnya bisa keluar dari karantina rumah sakit, aku serasa diberikan kehidupan kedua. Aku masih bisa menatap langit, menyeduh kopi, dan menggerakkan jari di atas keyboard.
Namun, ada yang tertinggal di kepalaku. Ia menempel seperti bayangan. Rasa takut bahwa suatu hari aku akan kembali ke ranjang itu.
Aku tidak percaya lagi pada keberuntungan. Sekali lolos bukan berarti aku akan lolos untuk kedua kalinya. Jakarta telah berubah menjadi kuburan raksasa yang bising. Setiap sirene ambulans yang meraung di jalanan memantul di antara dinding-dinding beton apartemenku.
Kewarasanku terkikis perlahan. Suara itu terus terngiang, merayap dalam semua situasi, mengikuti gema bunyi apa pun yang merambat ke telingaku.
"Kamu butuh ketenangan, Rian. Jiwamu belum sembuh," bisik nuraniku ketika aku terbangun dengan peluh dingin di tengah malam.
Bisikan itulah yang membawaku ke sebuah rumah kontrakan kecil di pelosok Kabupaten Bogor. Rumah yang berdiri cukup terasing, dikelilingi halaman luas yang ditumbuhi rumput liar dan sebatang pohon pinus tua di sudut kiri depan. Berjarak dari tetangga. Jauh dari apa pun yang berpotensi menyebarkan droplet.
Kesunyian ini merupakan suaka tertinggi yang bisa kubeli dengan tabunganku. Aku bisa bekerja dari balik layar laptop dengan tenang, menyambung sisa-sisa karierku yang sempat terbengkalai sebagai programmer lepas. Klien-klienku hanya peduli pada baris kode yang kukirim tepat waktu, bukan pada wajah pucatku atau bekas luka tusukan jarum di lenganku.
Virus jahanam itu. Ia tidak akan mampu menemukanku di sini. Aku yakin itu.
Gelap mulai menutup cakrawala, menggantikan sisa cahaya jingga. Beberapa barangku masih menumpuk di sudut ruang tengah. Aku berhenti, lalu duduk.