Karantina

Jasma Ryadi
Chapter #1

Bab 1: Pelarian

Dua bulan lalu, duniaku runtuh bersama bunyi melengking dari layar monitor tanda vital di ruang ICU. Aku tidak akan pernah melupakan sensasi itu. Paru-paruku terasa penuh oleh cairan, tenggorokan seolah dicekik, dan udara berubah menjadi musuh paling mematikan. Setiap kali aku mencoba menarik napas, aku merasa seperti sedang bernegosiasi dengan malaikat maut.

Oksigen menjadi barang mewah yang harus ditebus dengan rasa sakit yang mengoyak kesadaran. Masker berembun menjadi penopang agar tidak egois. Aku hanya bisa menatap langit-langit ruang isolasi yang putih kekuningan, mendengarkan desis konstan dari tabung gas yang menyokong sisa hidupku.

Satu per satu orang-orang di sekelilingku bertumbangan. Jerit kepanikan tak pernah berhenti bergemuruh dari balik sekat tipis. Kadang pasien yang merintih kesakitan dan ketakutan, kadang para perawat yang melangkah kelelahan dengan pakaian hazmat lengkap mereka. Instruksi medis diteriakkan dengan terburu-buru, disusul keheningan yang panjang.

Denyut berhenti. Pasien yang kalah dimasukkan ke dalam peti kayu. Mereka dibungkus plastik berlapis-lapis, lalu dibawa pergi ditemani oleh tangis beberapa anggota keluarga yang hanya bisa menyembul dari kejauhan.

Pemakaman mereka sunyi. Tidak ada iringan pelayat yang panjang. Tidak ada upacara penghormatan terakhir yang benar-benar khidmat. Prosesi harus dilaksanakan lebih cepat karena jenazah lain pun sudah menunggu antrean di ruang pemulasaran.

Aku nyaris menjadi salah satu angka di dalam laporan berita sore. Aku nyaris mati.

Hidupku yang sekarang adalah kesempatan kedua dari Tuhan. Aku masih diberi napas. Aku masih bisa menatap dunia. Namun, tetap saja ada endapan rasa takut yang tertinggal di kepalaku.

Mukjizat ini mungkin tidak akan datang lagi dan lagi, sementara virus jahanam itu tak berhenti menyebar, bermutasi menjadi varian-varian baru yang kian ganas dan kian lihai menembus pertahanan tubuh manusia.

Aku akhirnya memutuskan menepi dari keramaian. Jakarta telah berubah menjadi kuburan raksasa yang bising. Setiap sirene ambulans yang meraung di jalanan, memantul di antara dinding-dinding beton apartemenku.

Kewarasanku tak berhenti diusik. Suara itu terus terngiang, merayap dalam semua situasi, mengikuti gema bunyi apa pun yang merambat ke telingaku.

"Kamu butuh ketenangan, Rian. Jiwamu belum sembuh," bisik nuraniku sendiri ketika aku terbangun dengan peluh dingin di tengah malam.

Lihat selengkapnya