Karantina

Jasma Ryadi
Chapter #2

Bab 2: Maware

Aku memilih menghabiskan sebagian besar waktuku di dalam rumah. Aku terus menatap baris demi baris kode pemrograman di layar komputer jinjing hingga mataku terasa panas. Mengunci diri, memulihkan kendali atas ruang personal yang sempat terusik semalam.

Rasa jenuh akhirnya memaksaku berdiri dan melangkah ke area dapur untuk menyeduh segelas teh hangat. Ketika aku sedang menunggu air di teko berdenting mendidih, sekelebat bayangan tertangkap oleh sudut mataku melalui kaca jendela samping. Bayangan itu bergerak lambat di atas hamparan rumput pekarangan.

Jantungku mencelos. Dadaku sesak seketika. Aku meletakkan cangkir dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan benturan suara. Dengan langkah kaki tanpa alas, aku mendekati jendela. Aku bersembunyi di balik rak kayu jati yang terlihat sudah berumur.

Sosok itu bukan lagi sekadar siluet buram seperti semalam. Di bawah sisa cahaya sore, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Seorang lelaki tua, bertubuh ringkih dengan punggung agak bungkuk dimakan usia.

Ia mengenakan kemeja lusuh berwarna pudar yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Kemejanya dipadukan dengan celana kain yang ujungnya digulung hingga sebatas betis. Tampak biasa. Tak ada yang aneh.

Namun, aku bergidik kala melihat sebilah parang di tangan kanannya. Parang tersebut cukup panjang dan berkilat keperakan, memantulkan warna langit.

Apa yang ia lakukan? Mencari kayu bakar atau membabat rumput? Nalarku mengatakan tidak keduanya. Gesturnya terlalu ganjil untuk disebut wajar.

Lelaki tua itu berjalan mendekati area teras rumahku. Langkahnya diseret pelan, menyisir sekeliling. Kehadirannya, yang membawa senjata tajam di lingkungan terasing ini, langsung mengaktifkan alarm bahaya di kepalaku. Pikiran-pikiran buruk berputar di otak, menciptakan skenario paling mengerikan yang mengancam nyawaku.

Tanpa memedulikan tehku yang mulai mendingin, aku bergegas menuju pintu depan. Aku memastikan selot besi dan kunci tambahannya sudah terpasang kuat.

Aku berdiri di balik daun pintu kayu yang tebal, mendengarkan dengan saksama setiap bunyi yang berasal dari luar. Kesunyian desa ini justru membuat setiap getaran suara terdengar berkali-kali lipat lebih nyaring.

Bunyi gesekan sandal jepit yang tipis di atas semen teras mengalun tanpa distorsi. Lelaki tua itu diam seraya menghela napas. Helaannya terasa sangat berat dan dalam.

Kemudian, keheningan kembali meraja. Lelaki tua itu tidak mengetuk pintu. Ia tidak mencoba mendobrak atau memutar gagang pintu. Dari lubang intip kecil yang sengaja kubuat pada tirai jendela depan, aku memperhatikan setiap gerakannya. Ia mendudukkan tubuh ringkihnya di atas lantai semen teras, bersandar pada dinding bata. Lalu, ia meletakkan parangnya begitu saja di samping paha kanannya.

Aku terpengarah, terus mengawasinya. Ia hanya duduk, memandang lurus ke arah halaman yang mulai gelap. Seolah-olah halaman rumah ini adalah miliknya sendiri.

Ketakutanku perlahan bergeser menjadi rasa frustrasi yang membakar sekujur pikiran. Aku tak tahu cara mengusirnya. Aku juga tak mau bersinggungan dengannya. Di masa pembatasan sosial berskala besar ini, jarak menjadi hal yang sakral. Sebuah kecerobohan bisa berujung pengalaman maut kedua kalinya untukku. Keberadaan orang asing yang duduk tepat di depan pintuku, tanpa masker dan membawa senjata tajam, memberikan agresi biologis sekaligus ancaman fisik yang nyata. Aku terus waspada sembari menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruangan.

Tenang! Mungkin sebentar lagi ia akan pergi.

Lihat selengkapnya