Aku memilih menghabiskan sebagian besar waktuku di dalam rumah. Aku terus menatap baris demi baris kode pemrograman di layar komputer jinjing hingga mataku terasa panas. Mengunci diri, memulihkan kendali atas ruang personal yang sempat terusik semalam.
Rasa jenuh akhirnya memaksaku berdiri dan melangkah ke area dapur untuk menyeduh secangkir teh hangat. Ketika aku sedang menunggu air di teko berdenting mendidih, sekelebat bayangan tertangkap oleh sudut mataku melalui kaca jendela samping. Bayangan itu bergerak lambat di atas hamparan rumput pekarangan.
Jantungku mencelos. Dadaku sesak seketika. Aku meletakkan cangkir dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan benturan suara. Dengan langkah kaki tanpa alas, aku mendekati jendela. Aku bersembunyi di balik rak kayu jati yang terlihat sudah berumur.
Sosok itu bukan lagi sekadar siluet buram seperti semalam. Di bawah cahaya temaram, aku bisa melihatnya dengan cukup jelas. Seorang lelaki tua, bertubuh ringkih dengan punggung agak bungkuk dimakan usia.
Ia mengenakan kemeja lusuh berwarna pudar yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Kemejanya dipadukan dengan celana kain yang ujungnya digulung hingga sebatas betis. Tampak biasa. Tak ada yang aneh.
Namun, aku bergidik kala melihat sebilah parang di tangan kanannya. Parang tersebut cukup panjang dan berkilat keperakan, memantulkan warna langit.
Apa yang ia lakukan? Mencari kayu bakar atau membabat rumput? Dua-duanya tidak masuk akal. Tidak wajar.
Lelaki tua itu berjalan mendekati teras rumahku. Langkahnya diseret pelan, menyisir sekeliling.
Tanpa memedulikan tehku yang mulai mendingin, aku bergegas menuju pintu depan. Aku memastikan selot besi dan kunci tambahannya sudah terpasang kuat.
Aku berdiri di balik daun pintu kayu yang tebal, mencermati dengan saksama setiap bunyi yang berasal dari luar. Kesunyian desa ini justru membuat setiap getaran suara terdengar berkali-kali lipat lebih nyaring.
Bunyi gesekan sandal jepit yang tipis di atas semen teras mengalun tanpa distorsi. Lelaki tua itu diam seraya menghela napas. Helaannya terasa sangat berat dan dalam.
Kemudian, keheningan kembali meraja. Lelaki tua itu tidak mengetuk pintu. Ia tidak mencoba mendobrak atau memutar gagangnya.
Dari lubang intip kecil yang sengaja kubuat pada tirai jendela depan, aku memperhatikan setiap gerakannya. Ia mendudukkan tubuh ringkihnya di atas lantai, bersandar pada dinding bata, lalu meletakkan parangnya begitu saja di samping paha kanannya.
Aku terperangah, terus mengawasinya. Ia hanya duduk, memandang lurus ke arah halaman yang mulai gelap. Seolah-olah halaman rumah ini adalah miliknya sendiri.
Aku tidak tahu mana yang lebih menggangguku, parangnya atau caranya duduk setengah badan tanpa masker. Di masa pembatasan sosial berskala besar ini, jarak menjadi hal yang sakral. Satu kecerobohan sudah pernah hampir membunuhku. Aku terus waspada sembari menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruangan.