Karantina

Jasma Ryadi
Chapter #3

Bab 3: Pinus

Embusan angin menyelinap dari bawah pintu semenjak subuh. Ia tidak hanya memberikan kesejukan, tetapi juga menyisakan hawa lembap di dalam kamar. Aku terbangun dengan penat yang masih menggelayuti pundak. Tidurku sulit mencapai kata nyenyak setelah kehadiran lelaki tua itu.

Setiap kali memejamkan mata, bayangan bilah parang yang tajam menyusup ke belakang mataku. Ia memotong jalinan alam bawah sadarku menjadi kepingan-kepingan mimpi buruk yang acak. Ia menyerang secara nyata, tidak menyaru di udara.

Sama bengisnya. Sama sadisnya.

Aku memutuskan untuk tidak keluar rumah sepanjang pagi. Setelah membersihkan wajah dan menyeduh kopi instan tanpa gula, aku langsung menghadap ke meja kerja. Jari-jariku bergerak mekanis di atas papan ketik, menyusun baris demi baris logika pemrograman untuk proyek sistem basis data sebuah perusahaan logistik.

Inilah duniaku yang paling aman. Di sini, segala sesuatu berjalan sesuai hukum sebab-akibat yang pasti. Jika ada kesalahan, sistem akan memunculkan pesan eror yang jelas. Tidak ada motif tersembunyi. Tidak ada takhayul. Tidak ada keramahan palsu yang mencurigakan.

Sayangnya, konsentrasiku buyar ketika jam dinding baru saja melewati angka sebelas. Sebuah suara dentuman keras menghentak dari arah halaman depan.

Suara itu konstan dan berulang. Aku sampai bisa merasakan gema pantulannya di lantai keramik yang kupijak.

Aku melepaskan penyumbat telinga yang berisi alunan melodi ritmis. Aku lantas berdiri dengan perasaan gusar yang memuncak. Entahlah. Aku kira rumah ini tidak akan menarik perhatian siapa pun. Itu pula kata-kata manis yang diucapkan sang pemilik ketika aku memastikan tidak akan mendapat gangguan berupa suara ataupun tamu tak diundang.

Telingaku mencoba mendeteksi sumber suara. Kakiku melangkah dengan hati-hati, mataku menaruh waspada pada setiap sisi.

Aku menyibak tirai kain abu-abu dengan satu sentakan cepat. Di sudut kiri halaman, tepat di bawah pohon pinus tua yang batangnya mulai keropos, lelaki tua itu berdiri membelakangi posisi matahari. Ia mengenakan caping anyaman bambu yang sudah bolong di beberapa bagian, dan tangannya yang legam sedang mengayunkan parang panjang dengan bertenaga ke arah batang pohon tersebut.

Serpihan kayu pinus yang kecokelatan berterbangan. Parang itu terus menghantam kulit pohon tanpa ampun. Lelaki tua itu tampak bermandikan keringat. Pakaian lusuhnya menempel ketat pada punggungnya.

Ia lalu berhenti, dan mengibaskan capingnya ke tubuh. Mungkin ia kelelahan. Masalahnya, ia dan parangnya ibarat tautan scam. Sekali aku lengah atau membuka pintu, seluruh hidupku akan diretas habis olehnya.

Kemarahanku langsung naik ke ubun-ubun. Rumah ini sudah kusewa, termasuk halaman dan segala sesuatu yang tumbuh di atasnya. Legalitas kontrak membuat tempat ini menjadi ranah privatku yang mutlak.

Tindakannya menebang pohon di halamanku tanpa izin merupakan pelanggaran hukum dan etika. Tidak bisa ditoleransi. Ia tidak bisa dibiarkan semena-mena bersama parangnya.

Lihat selengkapnya