Mengabaikan situasi bukan lagi pilihan yang rasional. Sikap diam lelaki tua itu setelah insiden kemarin sore justru mematikan sisa ketenanganku. Ruang privat yang kusewa dengan mahal demi mendapatkan isolasi total kini terasa bocor. Aku membutuhkan otoritas lokal untuk menegakkan batasan yang jelas antara diriku dan orang tua itu. Setidaknya, untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi interupsi acak yang menganggu kenyamananku.
Sebelum mengambil tindakan, aku mengirim pesan singkat kepada pemilik kontrakan. Aku tidak menceritakan detail spesifik tentang kehadiran lelaki tua itu ataupun parangnya. Aku hanya melempar pertanyaan mengambang mengenai riwayat kunjungan orang asing ke area halaman, sekaligus mengonfirmasi kemungkinan adanya utusan darinya untuk merapikan pohon pinus di sudut kiri teras.
Balasannya datang beberapa menit kemudian. Katanya, selama ini tempat yang sedang kuhuni selalu sepi dan tidak pernah ada yang bertamu tanpa kendali. Mengenai pohon pinus, ia menjawab tidak pernah menyuruh siapa pun. Ia memang sempat berencana mengutus orang untuk menebang dan membersihkannya, tetapi sengaja menundanya karena ingin menunggu konfirmasi dariku terlebih dahulu.
Aku memutuskan untuk menahan jemari. Aku tidak membalas pesannya dengan fakta bahwa batang pohon itu sudah telanjur terluka parah.
Melalui baris teks selanjutnya, ia mencoba menenangkanku. Ia melemparkan dugaan jika orang yang kulihat mungkin hanya kebetulan, atau warga yang menuju kebunnya dengan mengambil jalur di samping rumah ini. Ia bahkan menambahkan satu kalimat penegasan yang mungkin diniatkan untuk menghibur: “Warga sana baik-baik, kok, Mas.”
Pesan itu ditutup dengan penegasan ulang mengenai pelaporan keberadaanku kepada ketua RT setempat sejak awal masa sewa. Ia meyakinkanku untuk tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Jika ada gangguan atau sesuatu yang membuatku tidak nyaman, ia menyarankanku untuk langsung menghubungi Pak RT saja, lengkap dengan lampiran nomor ponselnya.
Kalimat “warga sana baik-baik kok” justru terasa mengganjal di benakku. Ada riak ketidaknyamanan yang subtil.
Dalam kepungan situasi menyebalkan ini, nomor kontak Pak RT menjadi satu-satunya jembatan legalitas yang bisa kuambil dari dalam kamar. Aku menekan ikon gagang telepon berwarna hijau. Panggilanku diangkat pada deringan kedua.
Tanpa menunggu basa-basi atau membiarkan jeda tercipta, aku langsung menyebutkan identitas, menyampaikan inti masalah. Aku menceritakan kunjungan tengah malam dari lelaki tua berparang itu, hingga aksi pemotongan pohon pinus yang dilakukannya secara sepihak. Aku menyusun kalimatku sejelas dan seobjektif mungkin, murni sebagai laporan gangguan kenyamanan dari seorang penghuni baru.
Namun, respons dari ujung telepon membuat rahangku mengeras. Pak RT justru terkekeh pelan. Ia tertawa ringan, seolah meremehkan ketakutanku sebelum akhirnya melemparkan pembelaan yang senada dengan teks yang dikirimkan pemilik rumah ini.
"Abah Dirman itu orang baik. Beliau memang suka meronda keliling kampung kalau malam, untuk memastikan tidak ada babi hutan turun ke pemukiman. Parang itu cuma alat kerja biasa untuk merapikan semak belukar," pungkas Pak RT.
"Saya memahami perihal ronda malam, Pak," jawabku, mencoba menjelaskan posisiku dengan kepala dingin tanpa terkesan menyerang personal. "Yang menjadi masalah saya, Abah Dirman itu masuk ke halaman rumah tengah malam. Terus dia menebang pohon pinus tanpa ngomong apa pun ke saya. Kalau semuanya dikomunikasikan dulu, saya mungkin bisa mengerti dia orang baik. Maaf, Pak. Saya merasa terganggu karena saya tinggal di sini untuk mendukung pekerjaan saya juga, yang butuh ketenangan."
Suara di seberang telepon hening sejenak, disusul letup pemantik api dan desis tembakau kretek yang terbakar. Ketika ia kembali bersuara, nada santainya lenyap, digantikan oleh intonasi berat yang terasa sangat menggurui.
"Mas Rian harus paham, kehidupan di desa memang sangatlah berbeda dengan di Jakarta. Di sini, kami memang saling menjaga satu sama lain. Tidak pakai sekat-sekat kaku. Kalau ada orang tua yang datang membersihkan dahan atau menjaga keamanan rumah, itu bentuk kepedulian sosial, bukan gangguan. Abah Dirman itu murni berniat baik karena mungkin khawatir pohon pinus itu tumbang jika ada angin kencang, terus menimpa kediaman Mas Rian. "