Ekspektasiku saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah kontrakan ini hanya satu, yaitu produktivitas meningkat. Aku sangat optimistis suasana di rumah ini akan membuat otakku bekerja optimal. Kenyataannya, seluruh rencana berantakan. Selama berhari-hari aku hanya berguling dari kamar tidur ke dapur ke ruang tengah. Berputar tanpa tujuan. Proses adaptasi ini sudah melebihi batas yang kutetapkan.
Dua target pembaruan sistem yang harus kukirim minggu ini meleset total. Di sudut kanan bawah layar monitor, ikon aplikasi pesan instan terus berkedip merah. Ia menampilkan belasan notifikasi dari klien.
Tiga surel terakhir masuk dengan baris subjek bernada tegas. Mereka menuntut kejelasan tenggat waktu, mempertanyakan profesionalitasku, dan mengancam memutus kontrak secara sepihak jika tidak mereka terima malam ini.
Aku menatap tumpukan baris perintah di layar dengan kepala kosong. Kegagalan ini tidak disebabkan oleh kendala teknis pada perangkatku. Fokusku pecah. Pikiranku tertuju pada potongan-potongan kecurigaan yang melelahkan.
Setiap kali aku duduk di depan laptop, bayangan respons orang-orang di desa ini seolah terpampang di layar. Tawa ringan Pak RT di telepon dan, terutama, wajah tersenyum lelaki tua itu. Sikap santai serta penormalan yang mereka lakukan menjadi indikator kuat bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Mereka mungkin menganggapku pendatang polos, anak muda kota kaku yang tidak paham kehidupan di desa.
Semua tekanan itu terakumulasi, memaksaku meningkatkan protokol keamanan sendiri di dalam rumah. Aku sengaja mematikan sebagian besar lampu, membiarkan ruang tengah tenggelam dalam remang. Aku menjadikan tubuhku siluet agar tidak terlihat dari luar oleh siapa pun yang mungkin mengintai dari balik rimbunan pohon.
Setiap pagi, aku selalu mengintip keadaan dari balik tirai jendela. Setelah memastikan kondisinya sepi, aku mulai berjemur. Aku butuh kehangatan untuk mencairkan kebekuan.
Kemarin, aku melangkah sangat banyak. Aku berjalan kaki sejauh 300 meter. Persediaan makananku habis, disinfektan dan hand sanitizer juga tinggal beberapa milimeter. Untungnya, aku menjadi satu-satunya pelanggan di warung sembako dan minimarket. Hal tersebut membuat proses belanja selesai cepat tanpa perlu berinteraksi dengan banyak orang, meski penuh tatapan tajam dari pelayan karena mungkin aneh melihatku memakai baju berlapis, masker bertumpuk, dan sarung tangan. Aku malah lebih ingin menegur keras mereka karena memakai masker saja di dagu.
Memang, merasa sudah aman kadang justru membocorkan celah keamanan itu sendiri. Andai saja aku punya tempat untuk berbagi cerita. Selama ini, seluruh komunikasiku hanya berisi ruang obrolan formal dengan klien yang sedang marah, pemberitahuan sistem otomatis, dan instruksi revisionis.
Sinar matahari tipis menembus celah-celah awan yang belum sepenuhnya terbangun. Aku mengambil sapu lidi dari sudut dapur, mengumpulkan daun-daun kering yang terbawa angin. Saat aku sedang membungkuk, sebuah bayangan panjang jatuh tepat di atas jari-jari kakiku.
Aku tersentak. Otot punggungku menegang seketika.