Karantina

Jasma Ryadi
Chapter #6

Bab 6: Gesekan

Aku tidak mau lagi menggeser selot pintu depan. Ikon aplikasi pesan instan di sudut monitor laptop terus berkedip merah. Dua target pembaruan sistem yang dituntut klien malam ini sepenuhnya kuabaikan. Aku kehilangan kuasa untuk mengendalikan kepanikanku. Fokusku telah terkanal penuh pada area halaman luar yang perlahan-lahan ditelan kegelapan.

Jika lelaki tua itu memang seorang lansia yang kehilangan ingatan, mengapa polanya terasa begitu terstruktur? Ia datang dengan membawa singkong berlumur tanah. Ia seolah-olah ingin menunjukkan keramahan dalam bertamu. Namun, setelah itu ia memicu histeria tentang makhluk halus lagi, tepat saat aku membelakanginya di ambang pintu.

Parangnya pun tidak dibawa secara terang-terangan. Senjata itu ternyata sudah diletakkan terlebih dahulu. Pola ini terlalu rapi untuk sebuah kegilaan acak. Skenario tentang kamuflase—sebuah upaya intimidasi terencana dari warga lokal untuk mengusir atau memetakan kelemahanku sebagai pendatang—terasa jauh lebih masuk akal.

Pukul sepuluh malam, seluruh analisis teoritis di kepalaku dipaksa berhenti oleh sebuah gesekan fisik.  Kasar. Nyata.

Awalnya terdengar samar, seperti ranting kering yang beradu tertiup angin. Lama kelamaan, bunyinya memiliki ritme yang berat. Aku bisa merasakan seretan bilah besi menempel pada plesteran semen dinding samping rumah.

Kikisan itu menggerus partikel-partikel pasir pembentuk dinding, menghasilkan suara ngilu yang merayap masuk menembus celah ventilasi. Bersamaan dengan itu, terdengar geseran langkah kaki yang tidak seimbang.

Aku muak. Benar-benar muak.

Lelaki tua itu—aku sangat yakin. Langkahnya berhenti tepat di dekat jendela kamarku.

"Di dalam. Dia sembunyi di dalam. Abah tahu kamu ada di dalam,” desisnya, lalu mengetuk kaca berulang kali.

Seluruh tubuhku membeku. Ketukan itu bukan lagi tindakan orang linglung yang mencari jalan pulang. Mungkin teguranku, perlawananku, tidak cukup keras untuknya. Lelaki tua itu sama sekali tidak mengindahkan semua ketidaknyaman yang kutunjukkan atas kehadirannya.

Aku meraba-raba nakas di samping tempat tidur, mencari masker dan cairan pembunuh kuman. Entah berapa aku menghabiskan dua benda itu dalam satu minggu. Seharusnya persediannya untuk satu bulan.

“Den… Aden… Bukakan pintunya. Izinkan Abah masuk untuk narik jurig itu keluar.” Lelaki tua ini meminta dengan suara lirih.

Jelas, aku tidak akan membiarkannya masuk. Ia hanya menggunakan hantu sebagai alibi supaya aku memperlihatkan isi kmaraku.

Namun, aku kehabisan tenaga untuk berdebat dengannya. Aku berjalan ke dapur sambil membawa ponsel. Kucari nama Pak RT di daftar kontak. Aku tahu ini bukan waktu yang sopan untuk menelepon seseorang.

Ketika sambungan akhirnya terhubung, aku mendengar suara serak khas orang yang baru saja terbangun dari tidur lelap. Melalui bisikan yang kuusahakan sehalus mungkin, aku mengabarkan situasi yang sedang menekan rasa amanku. Aku menceritakan keberadaan lelaki tua itu dan parangnya. Bayangkan seandainya ia masuk dan membabi buta di dalam rumah. Sementara, aku tak punya senjata ataupun tameng pertahanan diri.

Lihat selengkapnya