Pergi. Aku sangat ingin melakukannya sekarang juga. Mengemas laptop, pakaian seadanya, lalu memesan kendaraan apa saja untuk membawaku mencari tempat baru yang memberikan ketenangan hakiki.
Namun, kenyataan pahit langsung menamparku cukup telak. Tabunganku sudah menipis, habis terkuras untuk membeli kenyamanan semu di rumah sewaan ini. Lagi pula, bepergian berarti harus kembali melempar diriku ke dalam kerumunan manusia, berkontak dengan beberapa orang, dan mempertaruhkan paru-paruku yang belum sepenuhnya pulih.
Tidak. Aku akan tetap di sini. Semalam, aku sudah menegaskan kepada Pak RT bahwa aku akan melawan secara hukum jika lelaki tua itu berani mengoyak ruang privasiku lagi.
Meskipun begitu, tubuhku tidak bisa berbohong. Sepanjang malam aku terus terjaga, menatap langit-langit kamar dengan jantung bertalu-talu. Rasanya seperti dilempar kembali ke ranjang ICU. Aku terperangkap, sesak, dan tak berdaya.
Aku didera ketakutan bahwa si orang tua itu tidak benar-benar pulang, melainkan berjongkok di kegelapan di sekitar rumah ini. Ia menunggu mataku terpejam, setelahnya kembali menyusup, meregas napasku.
Aku baru tertidur menjelang fajar dan terbangun saat matahari sudah merangkak tinggi. Ketika mengintip lewat jendela teras, jejak kebrutalan lelaki tua itu sudah bersih. Tidak ada serpihan kayu yang berserakan. Tidak ada lubang-lubang yang berantakan.
Mungkin Pak RT memenuhi ucapannya. Syukurlah, meski aku tetap mempertanyankan sikapnya yang begitu membela lelaki tua itu.
Hari ini, aku hanya menginginkan kedamaian. Kepalaku sakit. Denyutnya tak mau reda. Aku lantas ke dapur, mengambil sepotong roti. Setelahnya, menenggak satu tablet parasetamol tanpa ragu.
Bunyi gesekan sial itu kembali. Sumbernya terdengar dari arah area belukar di belakang rumah. Sayup, tetapi telingaku sudah terlatih, menjadi lebih awas.
Aku menangkap ritme potongannya berulang. Seseorang sedang membabat dengan bilah tajam secara mekanis. Entah. Lelaki tua itu sepertinya memang sengaja mempermainkan kewarasanku.
Seluruh otot tubuhku menegang. Aku melangkah tanpa suara, mengendap-endap menuju pintu belakang. Melalui celah pintu selebar tiga ruas jari, aku melihat bayangannya membungkuk di balik tingginya rumput liar.
Panik mengambil alih, menyesap ke seluruh jaringan saraf. Awas saja.
Aku berbalik cepat, mencari sesuatu untuk pertahanan diri. Dengan tongkat kayu panjang dari dekat tempat cucian di tangan, aku kembali ke pintu belakang rumah. Kupastikan masker terpasang sempurna menutupi hidung dan mulut.
Aku menyentak pintu belakang hingga terbuka lebar, siap menghadapi kemungkinan terburuk. Orang di balik semak itu menegakkan badannya. Alisnya terangkat, mulutnya sedikit terbuka. Namun, rupanya ia bukan si lelaki tua itu. Penampilannya jauh lebih muda dengan kaos lusuh basah oleh keringat.
Pria itu menyapaku, “Siang, Kang. Punten, saya teh lagi nyari rumput buat sapi saya.”