Kelumpuhan di sendi-sendiku kalah cepat oleh kepanikan yang meledak di dada. Lelaki tua itu mendelik gila. Ia menyentakkan bilah parang ke udara, tepat di atas wajahku.
“Awas sia! Modar kiwari keneh, kehed!” lolongnya.
Aku tidak bisa mengeluarkan suara. Aku hanya bisa mengangkat kedua lenganku, menyilang ke depan muka. Kalkulasi terburuk sudah selesai: kehilangan jemari atau cacat permanen jauh lebih baik daripada kehilangan jantung tertusuk. Aku memejamkan mata, bersiap menyambut hantaman besi dingin yang akan merobek dagingku.
Namun, hantaman itu tidak jadi datang. Aku mencium aroma lusuh si lelaki tua itu menjauh.
Mataku terbuka, menangkap sisa gelap. Ia telah melewati tubuhku dengan langkah ringkih, merangsek masuk lewat pintu depan. Ia masuk lebih dalam ke rumah.
Ia terus bergerak menyisir setiap ruangan. Parangnya tergenggam erat di tangannya, sesekali ujungnya menyapu benda-benda yang dilalui.
Aku memaksakan diri bangkit berdiri. Lututku goyah, sikuku ngilu, tetapi fokusku langsung tertuju pada satu hal, yaitu ponsel. Aku butuh menetapkan ulang rencana komunikasi. Aku harus menelepon Pak RT segera. Namun, ponselku tidak ada di saku celana, tidak juga di tempat yang terjangkau oleh mata. Aku lupa di mana terakhir kali meletakkannya.
Dari arah dapur, sebuah lengkingan tinggi dan jeritan kesakitan yang mengerikan menggema. Rintihan itu melaung bersama bunyi hantaman logam yang berdentang keras. Ia seperti membelah objek organik tebal yang basah. Imajinasiku membentuk visualisasi mencekam. Lelaki tua itu tidak lagi bediri sebagai manusia utuh.
Adakah orang lain, selain kami berdua di rumah ini? Apa yang sebenarnya si tua itu lakukan di dapur?
Tak lama, ia keluar dari lorong dapur dengan pembawaan ganjil. Ujung parangnya yang legam berubah menjadi basah, meneteskan cairan merah pekat yang menciptakan pola noda baru di atas lantai.
Aku mundur tiga langkah, merapatkan punggung ke sudut tembok. Logikaku mengalami crash parah, sementara nyeri di pinggang kian mencengkeram.
Tanpa memedulikanku, lelaki tua itu melangkah menuju sofa kain berwarna krem milikku. Ia mendudukkan tubuh bungkuknya di atas busa empuk, membuat struktur kayu sofa mengeluarkan suara decitan halus. Parang panjangnya diletakkan di atas paha kanannya.
“Hantu itu sudah berhasil Abah bunuh, Den. Sekarang Aden bisa tenang di rumah ini,” ujarnya di antara tarikan napas yang memburu pendek dan parau. “Abah numpang istirahat sebentar di sini, ya, Den,” imbuhnya.
Mulutku terbuka, tetapi tidak ada satu kata pun keluar. Maskerku kuyup oleh keringat dingin. Ia mengatakan aku bisa tenang, sedangkan parangnya diposisikan untuk mengawasiku.
Hantu itu tidak ada. Seharusnya tidak ada. Maka, sesuatu yang tidak ada tidak mungkin memiliki darah.
Seluruh tubuhku menggigil hebat. Aku harus bertindak sebelum parang itu mencicipi darahku.
“Abah... mau minum?” tanyaku, mencoba membangun interaksi pertahanan diri.
Ia mengiyakan tanpa menatapku. Aku bergegas menyeret sisa tenaga di kakiku, di tengah deru denyut nadi yang berdentum liar di pelipis.
Namun, begitu langkahku menginjak pembatas lantai dapur, aku tersentak hingga hampir memekik. Di bawah kompor, seekor kucing hitam tergeletak dengan tubuh terbelah dua. Darah segar menggenang di sekitarnya.