Aku baru saja mencabut pasokan daya dari sebuah CPU yang sedang bekerja di batas maksimal. Aku takut ia meledak dan membakarku hidup-hidup. Namun, ketika kesadaran mendesakku pada fakta bahwa lelaki tua itu telah sepenuhnya berhenti beroperasi, seluruh sisa adrenalinku menguap. Hanya ada kekosongan luar biasa yang membekap.
Dingin. Sunyi. Remang.
Aku terus menatap tanganku yang berlumur darah. Mungkin ada virus yang merembes, menembus kulitku. Ironisnya, aku tidak punya kekuatan bahkan hanya untuk berdiri. Aku hanya bisa menggosok-gosokkan telapak tanganku ke baju, lalu membasuh sisanya dengan maskerku yang basah
Telinga dan mataku terus berjaga, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika komplotan lelaki tua itu benar-benar datang menyusul, atau ada warga desa yang kebetulan melintas di malam buta ini. Pintu depan masih terbuka lebar. Pola bercak tanah basah serta sisa noda yang tertinggal di teras pasti akan langsung memicu kecurigaan bagi siapa pun yang melihatnya.
Aku akhirnya memaksakan diri untuk bangkit demi mengamankan perimeter. Kuatur napas dengan tenang, menghirup serpihan tenaga yang tadi bertebaran. Aku membersihkan seluruh sisa jejak kaki lelaki tua itu dari lantai semen teras hingga tak meninggalkan bekas.
Setelah memastikan tidak ada anomali visual yang kentara dari luar, aku bergegas membasuh badanku di kamar mandi. Aku menggosok kulitku hingga memerah demi melenyapkan sisa kontaminasi dari kengerian ini. Aku berganti pakaian, dan merebahkan badan di atas kasur.
Kepalaku rasanya nyaris pecah, mengalami overload hebat. Sementara, malam kian pekat. Aku menatap langit-langit kamar, mencoba menghitung sisa waktu sebelum fajar. Jasad di ruang tengah merupakan variabel asing yang harus segera dikeluarkan dari rumah ini. Akan tetapi, saat mencoba menggerakkan lengan, rasa nyeri di tulang ekor masih menggeliat, menusuk hingga ke tengkuk.
Hujan terdengar mengetuk genting. Keheningan menyelimuti logika dan nuraniku. Bagaimana perangkat yang telah mati itu harus diperlakukan? Aku tidak mungkin membuangnya begitu saja. Komponennya terlalu besar, terlalu mencolok, dan akan langsung memicu reaksi berantai jika terdeteksi oleh lingkungan luar.
Fisikku pun jelas tidak akan kuat. Menyeret beban seberat itu ke pekarangan belakang akan menguras habis sisa tenaga. Belum lagi, jejak seretannya pasti akan mengotori lantai dan membuat cekungan di atas rumput. Kemudian, aku harus menggali lubang sepanjang dua meter.
Mustahil. Aku akan kolaps sebelum mata sekop menyentuh setengah kedalaman.