Jari-jariku mengerut setelah berjam-jam bergulat dengan air dan cairan pembersih pekat. Bukan hanya lantai ruang tamu, aku juga menyisir ulang seluruh area rumah hingga ke sudut-sudut lantai terdalam. Pembersihan ini kulakukan secara menyeluruh, sebuah proses factory reset demi mengembalikan seluruh kondisi rumah ke setelan awal. Aku ingin menghapus semua jejak log aktivitas mengerikan malam ini.
Setelah tidak ada lagi bercak di lantai, aku menyikat permukaan sofa berkali-kali hingga telapak tanganku lecet, memastikan tidak ada bercak noda sekecil apa pun yang lolos dari sapuan mata. Semua kulakukan dengan amat hati-hati dan senyap. Meski jarak ke rumah tetangga terdekat terhitung jauh, keheningan malam selalu punya cara untuk membesarkan suara. Kewaspadaanku tidak boleh kendur sedikit pun.
Hingga tanpa kusadari, semburat kelabu fajar mulai menyelinap di balik celah tirai. Aku melihat keluar, ada satu yang masih mengganjal.
Tanah gembur itu terlihat sangat kontras. Bentuknya memang rata, tetapi jika diperhatikan dengan saksama, tampak rumpang. Besok atau lusa, orang-orang yang melihatnya pasti akan menaruh curiga.
Aku mengenakan jaket tebal, memakai sepatu, lalu memasang selembar masker kain yang sebenarnya kurang kupercayai sebagai pelindung. Aku melangkah keluar pagar, berjalan membelah kabut. Gigi-gigiku berantukan, tubuhku gemetar, dan lututku terasa goyah. Seingatku, di sekitar minimarket ada lapak pedagang tanaman hias.
Lapak masih tertutup terpal. Aku memanggil-manggil penjualnya dari luar gubuk kayu di belakang. Seorang pria muncul menyibak kain pintu. Ia tampak tersentak saat melihatku.
"Mau cari tanaman apa, Kang? Subuh-subuh begini," tanyanya. Suaranya serak, menatapku penuh selidik.
Aku sempat gugup, mencoba merangkai alasan yang logis di dalam kepala. "Saya... mau menata halaman depan. Ada bekas tebangan pohon."
Pria itu menggaruk, lalu menunjuk ke satu sudut bunga. "Kalau bekas tebangan, pakai lavender saja, Kang. Bagus buat di halaman. Aromanya juga wangi, sekalian bisa buat ngusir nyamuk."
Lavender. Benar. Sarannya cukup genius.
Tanpa menawar, aku merogoh dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang kertas terakhir yang kupunya. Sisa uang tunai yang sangat kritis.
Sambil membawa beberapa pot tanaman lavender di kedua belah lenganku, aku berjalan secepat yang kubisa untuk kembali ke rumah. Langit mulai bergeser ke warna abu-abu terang ketika aku memasuki radius seratus meter dari area rumah kontrakanku.
Langkah kakiku terjeda, melambat. Jantungku berdentum keras, memukul rongga dada.
Seorang ibu sedang menyapu di depan rumahnya. Ia membersihkan guguran daun kering hingga ke batas aspal luar. Bunyi sapu lidinya mendengung seperti mesin scanner yang sedang bekerja.
Tatkala jarak kami terpangkas, ibu itu menghentikan gerakan tangannya. Ia menegakkan tubuh, mengarahkan pandangannya lurus ke arahku. Matanya memperhatikan pot-pot lavender di pelukanku, lalu turun mengamati penampilanku.