Karantina

Jasma Ryadi
Chapter #11

Bab 11: Delusi

Sebuah bisikan parau menyusup melalui ventilasi, mengulang namaku dengan intonasi yang biasa lelaki tua itu gunakan. Bunyinya begitu dekat, serasa menggantung di atas kepala.

Aku meyakini pendengaranku sendiri. Tanpa ada suara apa pun untuk mengalihkan fokus, gema itu terasa nyata. Aku bangkit, melangkah keluar kamar, membelah kesunyian untuk memastikan bahwa tidak ada siapa pun di sana.

Baru setengah jalan menyisir ruang tengah, tiga ketukan keras yang teratur memukul pintu depan. Aku membeku dengan kaki gemetar. Mustahil. Orang yang sudah mati tidak mungkin bisa hidup lagi, terlebih jasadnya sudah termutilasi.

Mungkin ada seseorang yang mencoba membangun paranoiaku. Bisa saja. Ini lebih masuk akal.

Aku fokuskan lagi pendengaran untuk menangkap suara itu lagi. Mataku membidik setiap sudut, bersiap menghalau pergerakan apa pun yang muncul tiba-tiba.

“Mas Rian, ini saya, Pak RT. Apa Mas Rian ada di rumah?”

Aku keliru. Ketakutan yang masih mendiami pikiranku baru saja memanipulasi fungsi pendengaran. Namun, aku sama sekali tidak mendengar derit pagar atau langkah kaki di teras sebelum ketukan itu berbunyi.

Sebelum memutuskan untuk membuka pintu, aku memperbaiki penampilanku sedikit. Kedatangan Pak RT pasti bukan tanpa sebab.

Aku memutar selot kunci, menarik gagang besi. Pak RT mengulurkan tangan, dan aku terpaksa menyambutnya. Tidak ada pilihan lain.

"Maaf ganggu, Mas Rian. Apa Abah Dirman ada ke sini dalam tiga hari ini?" tanya Pak RT dengan pandangan yang seolah menelisik ke dalam.

Darahku terasa berhenti mengalir. Pertanyaan itu, jelas, bukanlah basa-basi semata. Ia pasti sedang mengaitkan hilangnya lelaki tua itu, atau mendapat laporan tentang gelagat anehku dari dua orang warga yang melihatku pagi ini dan beberapa hari lalu.

"Tidak ada, Pak," jawabku singkat. Aku tidak perlu menambahkan penjelasan yang tidak diminta. Terlalu banyak kata justru akan membuka celah kesalahan yang fatal.

Pak RT tidak langsung merespons. Matanya menyorot ke wajahku. Ia lalu mendengus tipis, disusul dengan anggukan yang lambat.

"Baiklah kalau begitu, Mas Rian,” ucapnya dengan nada lelah. “Rumahnya kosong. Tetangga-tetangganya juga bilang tidak melihat Abah pulang beberapa hari ini. Saya kira dia ke sini."

Lihat selengkapnya