Karantina

Jasma Ryadi
Chapter #12

Bab 12: Pemindaian

Jalan desa yang terbuka terasa lebih menjanjikan daripada kepungan dinding rumah yang kian menghimpit. Aku merapikan masker kain hitam, memastikan kainnya mendekap erat separuh wajah dan mengunci di belakang telinga. Sebelum memutar selot pintu, jemariku memastikan keberadaan botol kecil penyanitasi tangan di dalam saku celana. Sebuah rutinitas steril demi menjaga kewaspadaanku tetap utuh. Aku membutuhkan udara luar untuk mengurai sisa ketegangan yang terus bersedimentasi.

Namun, langkahku tertahan di undakan teras. Tatapanku terkunci pada sudut kiri pekarangan, tempat barisan lavender yang kemarin masih berdiri tegak kini tampak merunduk layu. Beberapa kelopaknya yang ungu mulai berubah kecokelatan.

Dari jarak beberapa meter, sekelompok lalat hijau berputar rendah, sesekali hinggap di atas permukaan tanah gembur yang menimbun lelaki tua itu. Bersamaan dengan embusan angin tipis, aroma harum yang biasa menguar berganti dengan sekelebat bau samar pembusukan. Lambungku bergolak, memicu kecemasan baru yang merayap cepat ke dada. Rencana jalan-jalan santai buyar, berganti urgensi untuk menyelamatkan kondisi tanah itu sebelum orang lain menyadarinya.

Aku menutup pagar dengan tangan gemetar, lalu melangkah cepat membelah jalan desa menuju kios tanaman di ujung area depan. Di persimpangan jalan, sekelompok ibu-ibu sedang berkerumun, mengobrol dengan riuh. Begitu aku berjalan mendekat, keriuhan itu surut. Kesunyian yang tercipta membuat detak jantungku memburu.

Aku memaksa mataku tetap lurus, berusaha menguasai diri agar tidak memamerkan ketakutan. Jika aku menunjukkan gestur menghindar, mereka pasti menaruh curiga.

"Pagi, Mas," sapa salah satu dari mereka. Aku tak mau berkutat pada pertanyaan dari mana warga sini tahu namaku. Aku anggap semua orang sudah mengetahuinya.

"Mau ke mana, A?" timpal ibu yang lain, yang tempo hari berpapasan denganku saat ia tengah menyapu.

Aku rasa sapaan dan pertanyaan mereka merupakan bagian dari investigasi. Mereka mungkin sedang mengumpulkan bukti mengenai hilangnya lelaki tua itu. Tadi, aku sekilas mendengar nama itu disebut, sebelum akhirnya aku datang dan mereka menutup mulut.

Kepalaku penuh oleh skenario buruk. Aku menekan seluruh gejolak itu ke dasar tenggorokan agar suaraku tidak bergetar.

"Ke depan, Bu. Ke tukang bunga," jawabku sembari menganggukkan kepala sebagai tanda pamit. Aku mempercepat ayunan kaki sebelum mereka sempat menggali lebih dalam.

Kios tanaman di ujung jalan itu untungnya sepi. Tanpa banyak bicara, aku mengutarakan keluhan tentang akar pembusukan pada tanaman kepada pria pemilik kios. Ia masih mengenali posturku.

Pria itu mendengarkan sambil mengangguk-angguk kecil, lalu berbalik ke deretan rak kayu di belakangnya. Ia mengambil sebotol kecil cairan fungisida yang katanya berfungsi memulihkan pembusukan akar sekaligus menetralkan bakteri tanah. Saat aku merogoh saku, ia justru melambaikan tangan, mendorong pelan jemariku. Ia menggelengkan kepala, menyerahkan botol itu secara cuma-cuma.

Keramahan tanpa pamrih itu terasa ganjil. Ada keraguan yang mengganjal di dalam benakku sepanjang perjalanan pulang.

Lihat selengkapnya