Aku terpaksa datang. Sebelum meninggalkan rumah, aku sempat berniat memakai masker ganda, melapisi masker medis di bagian dalam dan kain hitam di luar. Namun, persediaan masker medis di laci kian menipis. Juga, menggunakan pelindung berlapis berisiko membuatku terlihat berbeda dan mencolok di mata warga. Sebagai gantinya, aku memastikan sebotol kecil penyanitasi tangan sudah tersimpan di saku celana. Selain itu, aku memilih jaket tebal lengan panjang untuk meminimalkan sentuhan fisik dengan orang lain.
Langkah kaki menyusuri jalan yang minim penerangan. Dingin menyerang dengan cukup masif. Ia mampu menembus serat jaketku yang padat. Hidungku pun cukup kewalahan mengatur aliran udara.
Bias cahaya rendah dari teras rumah warga memantulkan kewaspadaanku. Beberapa orang terlihat masuk ke dalam gang dengan pakaian rapi. Aku memantapkan kaki menuju pusat keramaian yang paling kuhindari.
Rumah tempat acara berlangsung sudah dipenuhi oleh bapak-bapak dan para pemuda desa ketika aku tiba. Ada rasa canggung dan bingung. Aku lupa caranya berinteraksi dalam suasana seperti ini.
Pak RT melambaikan tangan ke arahku, lalu si ibu tuan rumah menghampiriku. Ia menuntunku ke tempat duduk yang masih lapang, tetapi terasa janggal. Semua orang lesehan dengan tikar seadanya, sementara aku mendiami selembar permadani yang halus dan hangat.
Orang-orang terus berdatangan. Hanya beberapa yang menggunakan penutup hidung dan mulut. Itu pun sekadar menempel di wajah.
Suasana semakin pengap oleh kepulan asap rokok yang tebal, bergulir lambat, bercampur dengan aroma kopi hitam. Mereka duduk bersila dalam kelompok-kelompok kecil, mengobrol dengan suara keras yang saling tumpang-tindih. Keringat dingin mulai membasahi punggungku.
"Rokok, A?" Seorang bapak di sebelahku menyodorkan sebungkus rokok filter yang sudah terbuka.
"Maaf, Pak, saya tidak merokok," jawabku sambil mengayunkan tangan terbuka dengan sopan.
Ia lantas mengajakku berbincang. Ia bertanya tentang pekerjaan, tentang aktivitasku sehari-hari di rumah. Mirip sebuah interogasi yang dibalut dengan kata-kata ringan.
Aku hanya menjawab seperlunya. Pertanyaan yang ia ajukan menegaskan bahwa posisi dudukku memang sudah diatur sejak awal.
Sambutan dan doa memutus percakapan kami. Semua orang diam. Hening, mendengarkan.
Aku berusaha mengecilkan eksistensiku sebisa mungkin. Aku tidak mengarahkan pandangan ke mana pun selain ke lipatan kakiku. Di bawah lipatan lutut, tanganku bergerak lambat, meraba saku celana untuk mengeluarkan botol kecil pemberiku rasa aman.
Aku menekan penutupnya pelan, membiarkan beberapa tetes gel dingin itu membasahi telapak tanpa menimbulkan suara. Aku mengoleskannya dengan sangat hati-hati agar aroma tajam alkoholnya tidak sampai menguar dan memancing perhatian orang di sebelahku.