Kain masker yang lembap langsung kulepas begitu pintu depan tertutup. Rumah ini penuh dengan kesunyian yang memadat, sementara isi kepalaku bising oleh sisa-sisa tatapan sinis bapak-bapak di tempat syukuran tadi.
Aku menuang air putih ke dalam gelas, meneguknya cepat hingga tandas, lalu mengisinya lagi. Bergelas-gelas air dingin kupaksa masuk ke tenggorokan, membasuh rasa sesak dan aroma asap rokok yang seolah masih mengendap di indra penciumanku. Namun, jalur napasku tetap terasa kering dan panas.
Saat aku meletakkan gelas terakhir ke atas meja, otot leherku bergerak sendiri. Otak seakan mengambil alih kendali saraf secara otomatis. Ia memaksaku melotot lurus ke satu titik statis di sudut lantai. Rongga gelap di bawah kolong kompor.
Mataku tidak bisa beralih dari tempat gelap di bawah kolong kompor dapur itu. Langkahku ikut bergeser, ditarik oleh seonggok kain putih di atas lantai semen.
Aku menarik bungkusan itu, bungkusan yang belum tahu harus kusembunyikan bagaimana dan di mana. Sebilah parang. Milik lelaki tua itu.
Kejadian kelam malam itu merayap kembali. Tekstur kulit Abah Dirman yang kaku dan getaran hampa yang merambat ke siku menghantam persendianku. Saat itu, aku merasa kebal seolah hanya sedang mencincang batang pisang basah. Namun, ingatan itu tak pernah berhenti menyiksa, mengaduk batinku.
Seketika, dinding perutku mengencang hebat. Cairan asam naik ke saluran pernapasan, memberikan sensasi terbakar tanpa bisa kutahan. Aku ambruk berlutut, memuntahkan cairan tersebut di samping logam besi yang tajam. Dada dan punggungku berguncang, leher serasa digantung.
Aku merebahkan badan di lantai dan melonggarkan pakaian. Bertarung sendirian dalam kesakitan selalu menjadi ketakutan paling mengerikan.
Dari balik dinding, sayup-sayup terdengar bunyi gesekan kerikil di pekarangan. Satu pasang. Dua pasang. Lalu, berubah menjadi gemuruh langkah kaki yang serentak mendekat. Aku membeku di lantai, menahan napas.
Orang yang mengikutiku, ia nyata. Ia tidak mendahuluiku ataupun berbalik badan. Bagaimana jika sebenarnya ia mengawasiku lewat celah tipis ketika aku masuk ke dalam rumah? Suara-suara gaduh di depan mungkin dari orang-orang yang ia kumpulkan.
Bau bensin dan minyak tanah berputar di udara. Mereka tak lagi menggunakan cara-cara investigatif dengan pendekatan persuasif. Mereka mengepungku. Mereka mungkin tak sabar ingin melihatku mati mengenaskan seperti lelaki tua itu.
Aku terperangkap. Aku tidak bisa ke mana-mana lagi.
Cahaya jingga pekat menjalar dari ambang bawah pintu. Memanjang kaku, lalu memantulkan siluet-siluet tinggi yang bergerak liar di langit-langit dapur.
"Rian! Keluar!" Suara Pak RT menggelegar dari depan. Berat, serak, dan penuh amarah.
"Rian, keluar! Kami sudah tahu semuanya! Jika tidak, kami bakar kamu hidup-hidup! Kamu akan merasakan apa yang Abah Dirman rasakan!" Teriakan lain menimpali, memprovokasi massa.
"Bakar! Dasar pembunuh!"
Pekarangan rumahku runtuh oleh laungan warga yang saling bersahutan. Aku merangkak mundur dengan panik, tetapi punggungku membentur kaki meja. Lewat celah jendela, kobaran api dari puluhan bilah bambu diacungkan ke udara, menerangi wajah-wajah beringas yang menuntut darah.