Kapas beralkohol menyapu permukaan kulit ujung jari tengahku. Bunyi pegas pendek menjentik, disusul rasa perih yang familiar. Petugas medis berbaju hazmat menekan jariku hingga setetes darah merah pekat keluar, lalu memindahkannya ke lubang kecil rapid test di atas meja. Beberapa tetes cairan bening menyusul dituang ke sampingnya. Darah itu perlahan merayap melewati strip pengujian di dalam kit plastik.
Dari balik masker ganda, petugas itu memeriksa data diriku. “Aa ada riwayat positif sebelumnya?”
“Ada. Beberapa bulan lalu,” jawabku pelan.
Ia mengangguk-angguk di balik pelindung wajahnya yang buram oleh uap napas. Sebagai seorang penyintas yang baru beberapa bulan sembuh, aku tahu di dalam darahku kemungkinan besar masih tersimpan pertahanan alami yang kuat. Namun virus ini tidak bisa ditebak.
Petugas itu kemudian menjelaskan bahwa hasil tes baru akan muncul sekitar satu jam lagi. Ya, aku masih hafal tahapan dan waktu yang dibutuhkan untuk pengujian ini. Namun, hafal bukan berarti terbiasa, apalagi terbebas dari rasa khawatir.
“Mau ditunggu di sini? Atau nanti hasilnya dititipkan lewat Pak RT aja?” tanyanya lagi.
“Saya tunggu aja di sini.” Jawabanku keluar terlalu cepat.
Menyerahkan secarik kertas berisi data medis dan status kesehatanku ke tangan Pak RT adalah hal terakhir yang akan kulakukan. Membiarkannya membawa hasil tesku sama saja dengan menyerahkan kunci tambahan baginya untuk mencampuri urusanku lebih jauh.
Untuk menghindari atmosfer ruang tunggu yang pengap dan dipenuhi batuk kecil beberapa warga lain, aku melangkah keluar. Aku berjalan memutari bangunan sisi-sisi puskesmas yang kusam hingga mencapai area paling belakang yang sepi.
Dinding beton pembatas puskesmas langsung berhadapan dengan hamparan sawah hijau yang luas. Angin pagi mengalun bebas tanpa sekat, menggoyang pucuk-pucuk padi yang mulai meninggi, menciptakan gelombang yang tenang.
Berdiri di tepi pembatas ini sambil menatap garis cakrawala yang bersih, dadaku perlahan terasa lapang. Sebuah ketenangan asing menyusup ke dalam sistem sarafku, meredam desing kecemasan yang tak pernah berhenti mengunci kepala. Untuk beberapa saat, dadaku tidak lagi terasa sesak.
Namun, di tengah ketenangan itu, aku justru merasa jijik pada caraku berpikir. Sebagian dari diriku berharap hasil tes itu reaktif.
Jika kit plastik di dalam sana memunculkan dua garis merah, aku akan dievakuasi. Protokol kesehatan akan menyeretku keluar dari desa ini secara sah. Mereka akan mengurungku di bangsal rumah sakit yang steril, dingin, dan sepenuhnya bersih dari bau tanah.
Tempat tidur rumah sakit di bawah cahaya lampu putih terasa seperti perlindungan yang paling aman. Jauh lebih aman dibanding kamarku sendiri yang jendelanya menghadap langsung ke petak lavender penimbun mayat Abah Dirman. Di sana, aku bisa bersembunyi dengan status sebagai orang sakit.
Tidak ada yang akan mendekat. Tidak ada yang akan berjalan ke halaman rumah dan bertanya tentang tanah di dekat lavender. Aku bisa bebas. Mungkin.