Seminggu terakhir, semuanya terasa cukup membaik. Pekerjaan dari klien berhasil kuselesaikan tepat waktu, dan kemarin sore, notifikasi transferan upah sudah masuk ke rekeningku. Nominalnya cukup aman untuk menyambung hidup beberapa bulan ke depan. Aku senang karena masih bertahan di tengah gempuran yang tidak masuk akal.
Tidurku pun sedikit lebih tenang. Setidaknya, selama beberapa hari ini, aku bisa memejamkan mata tanpa perlu buru-buru menutup telinga karena suara-suara bising yang biasanya berputar di dalam kepala. Otot-otot di pelipisku yang biasanya menegang kaku mulai bisa diajak kompromi. Rasanya seolah semua kekacauan di halaman depan rumah sudah selesai atau perlahan mereda.
Selepas magrib, aku memutuskan keluar rumah. Rencananya murni hanya ingin ke ATM di minimarket mengambil uang tunai sekalian membeli beberapa kebutuhan pokok. Anggap saja keluar sebentar untuk mencari angin segar setelah cukup lama tak menikmati suasana malam di desa ini, bahkan bisa dikatakan tidak pernah.
Langit begitu bersih. Bulan bersinar sangat terang, menelanjangi jalan. Aku mengayunkan kaki tergesa, merapat ke area gelap di bawah rindangan pohon agar tidak terlalu menarik perhatian.
Setiap kali mendengar ada tetangga yang batuk dari teras rumah mereka atau mendengar deru motor yang mendekat, tubuhku otomatis menghindar. Aku menyelinap ke dalam bayangan yang paling pekat. Aku menundukkan kepala, mengunci pandangan ke ujung sepatu. Melangkah lagi setelah kondisinya benar-benar sepi.
Namun, seluruh perasaan damai itu menguap saat kakiku kembali menginjak ujung pekarangan rumah. Semu. Seperti ditipu oleh pikiran.
Halaman depanku berantakan. Petak tanaman lavender yang kupelihara habis-habisan telah hancur. Aroma wanginya menguar, tergeletak, berbaur dengan bau tanah. Bau tanah yang baru saja digali dengan kasar. Bau yang sama dengan malam itu. Malam ketika aku membenamkan jasad lelaki tua itu.
Amarahku membakar jaringan tubuh. Tanganku mengepal, menjatuhkan kantong belanja yang tak lagi terasa berharga. Biadab!
Aku memungut batang-batang lavender yang tercecer itu. Ia tidak patah karena terinjak atau dirusak oleh angin. Potongannya miring dan halus. Sengaja ditebas menggunakan bilah senjata yang tajam.
Bunyi nyaring memenuhi telingaku, menghapus hampir semua suara lain. Rasa dingin menjalar dari tengkuk, merayap cepat ke belakang kepala. Batang-batang yang terpotong rapi itu tergeletak seperti penanda yang sengaja ditinggalkan. Terlalu bersih untuk disebut ulah iseng. Semuanya menunjuk ke tanah di bawahnya.
Aku membalikkan badan, setengah berlari menuju teras. Tapak-tapak kaki tanpa alas terlihat mengular dari tangga hingga ke ambang pintu. Saat tanganku meraih gagang pintu depan, aku merasakan jejak hangat dan ringan.
Pintu rumahku tidak terkunci. Jelas, ada orang yang menyusup ke dalam. Namun, bagaimana ia bisa masuk tanpa merusak lubang kunci?
Aku menyelinap hati-hati ke dalam rumah, memeriksa setiap sudut dengan mata dan telinga berjaga penuh. Tak ada kerusakan. Tidak ada barang yang bergeser. Televisi, laptop di atas meja, semuanya masih utuh di tempatnya.
Akan tetapi, begitu pandanganku turun ke bagian bawah sofa, napasku tertahan seketika. Di bagian kain bawah sofa, tepat di dekat kaki-kakinya, terdapat noda tanah yang menempel kasar yang mulai mengering. Ceplakannya terlihat menempel kuat. Bekas tumit serta ujung celana kotor dari seseorang yang duduk bersandar dengan posisi tegang.