Aku sudah memajukan kaki kanan. Seluruh tenagaku sudah dikumpulkan di lengan. Aku siap mencabik-cabik tubuhnya.
Namun, saat jemariku hendak menarik bilah besi tipis itu, duniaku berubah gelap. Sebuah rasa sakit yang teramat hebat menghantam bagian belakang kepalaku. Rasanya seperti ada yang mencabut kabel daya otakku dari stopkontak secara paksa. Tanpa peringatan, tanpa sempat menyimpan data.
Pandanganku langsung pecah, buram. Aku kian tenggelam, dan kehilangan pendengaran. Aku tidak tahu tubuhku sudah ambruk ke lantai atau belum. Mungkinkah aku sudah kehilangan diriku?
“Mas… Mas Rian… kenapa?”
Suara Hendra terdengar sayup-sayup. Aku masih bisa merasakan tanganku yang gemetar di dalam lipatan jaket. Masih memeluk gagang pisau. Aku ingin bergerak, ingin mendorongnya menjauh, tetapi tubuhku sudah tidak bisa menerima perintah.
Keheningan panjang menyapu kesadaranku. Saat mataku kembali terbuka, sensasi pertama yang kurasakan, yaitu kebas yang luar biasa di sekujur tubuh. Punggungku bersandar pada busa sofa yang familier dengan posisi tegang. Sofa ini seolah sedang berusaha mencengkeramku.
Pandanganku masih berbayang, mengayun lambat mencoba mengenali siluet yang berdiri tepat di depanku. Aku tersedak oleh napasku sendiri.
Abah Dirman.
Ia berdiri dengan tubuh yang bungkuk. Pakaiannya basah, dipenuhi tanah, dan menguarkan bau bangkai. Matanya yang redup menatapku sarat kebencian. Di tangan kanannya, parang panjang terangkat sedikit seiring langkah kakinya yang mulai mendekat.
"Pergi! Jangan mendekat!" pekikku.
Aku meraba bagian dalam jaketku. Pisau itu tidak ada. Mungkin terjatuh, atau mungkin ada yang mengambilnya.
"Pergi! Saya tidak punya salah apa-apa sama Anda. Jangan bunuh saya!" teriakku lagi.
Kulipat kaki ke atas sofa, menyeret tubuh ke belakang dengan panik hingga sandaran sofa itu bergeser, mencicit keras menabrak dinding. Sementara itu, sosok lelaki tua tua terus berjalan, selangkah demi selangkah, memperpendek jarak di antara kami.
Kedua tanganku menyilang, menjadi tameng darurat di depan wajah. Aku merunduk serendah mungkin, mempersiapkan otot lengan untuk menerima hantaman besi yang mungkin sebentar lagi akan mencabik-cabik tubuh. Setidaknya, biarkan lengan ini yang hancur terlebih dulu, asal aku masih punya beberapa detik untuk melompat dan lari.
Ini seperti malam itu. Aku kembali ke waktu itu, atau ia yang bangkit dengan dendamnya.
"Mas Rian. Ini saya, Hendra."
Suara itu tidak lagi sayup. Aku belum mau menurukan lenganku karena bisa saja itu hanyalah tiruan atau tipuan.
Sorot cahaya besar menyerang wajahku. Lalu, remasan hangat menekan pundakku. Perlahan, aku melihat ke arahnya.
Benar. Hendra.