Aku terbangun dengan tubuh yang remuk. Duduk di tepi ranjang, merenung tanpa arah sebelum akhirnya memaksa diri untuk memulihkan tenaga.
Berjam-jam aku hanya duduk kosong ditemani sebotol air mineral satu setengah liter, sisa roti, dan beberapa bungkus camilan. Aku memaksakan semuanya masuk ke dalam tubuh, menelan makanan-makanan demi bisa bertahan hidup. Hambar. Tak ada rasa apa pun yang tertinggal di lidah.
Ketika cahaya di dalam ruangan mulai meredup di penghujung sore, aku menyeret langkah kaki menuju meja kerja. Aku menyalakan laptop, bukan untuk bekerja. Ini semacam respons autopilot dari kebiasaan yang sudah tertanam di otak.
Sistem operasi di monitor memuat halaman utama, menampilkan jendela-jendela kerja yang belum disimpan. Ada satu detail kecil yang membuat fokusku terkunci: lampu indikator hijau di sebelah kamera bawaan laptop tampak menyala.
Dahiku berkerut. Aku segera membuka direktori rekaman lokal yang otomatis berjalan jika menangkap sensor gerakan. Ada satu file video dengan timestamp kemarin sore. Aku menekannya. Cukup mendebarkan.
Layar menampilkan lorong menuju dapur. Sesosok pria muncul dengan gerakan patah-patah, berjalan tergesa sambil menggenggam erat sebuah parang. Aku mendekatkan wajah ke layar, mengamati pakaian yang dikenakannya.
Pria itu memakai kemeja dengan tiga kancing atas terbuka dan celana panjang fleece. Wajahnya agak terdistorsi, tetapi aku mengenali cara kakunya mencengkeram parang, juga ritme langkahnya yang konstan serta berulang. Pola presisi dan simetri yang ada di dalam kepalaku.
Ciri itu milikku. Pria di video itu adalah aku.
Jalur memori yang terputus tersambung paksa. Aku ingat. Benar. Semuanya terbuka.
Kesadaranku saat potongan gambar kemarin sore berkelebat tanpa urutan. Aku merasakan lagi dinginnya rumput pekarangan di telapak kakiku yang telanjang, bau getir getah lavender yang kubabat kalap, hingga napas memburu saat aku ambruk di sofa dengan celana penuh tanah.
Setelah membabat lavender-lavenderku, aku menolak untuk mengingatnya. Otakku memutus sekring rekaman malam itu agar aku tidak gila saat melangkah ke minimarket.
Dengan tangan gemetar, aku meraba kolong tempat tidur. Besi panjang yang tajam itu menyentuh kulitku. Nyata. Aku mendorongnya kembali ke dalam kegelapan di bawah dipan.
Aku lantas bangkit, bergerak, duduk di teras. Tanpa menggunakan pelindung apa pun, baik di wajah maupun di tangan. Pandanganku tertuju pada hamparan batang lavender yang layu. Hendra berdiri di sampingku dengan tangan menggenggam kantong plastik. Ia datang, dan aku tidaknya menyadari aromanya. Lagi dan lagi.
Ia lalu menyerahkan bungkusan itu dengan suara rendah. “Saya bawakan makanan untuk Mas Rian. Saya yakin Mas Rian belum makan.”
Aku sudah makan atau belum seharusnya tidak ada hubungan dengannya. Aku baru beberapa hari tahu namanya. Jadi, kurasa wajar jika aku terus mencari anomali dari setiap perangainya.
"Apa maksudmu dengan semua kebaikan ini?" tanyaku tegas. Aku sudah terlalu lelah untuk menebak. "Mengapa semua orang menjadi begitu peduli kepadaku?"
Hendra mengambil tempat duduk di sebelahku, melunjurkan kaki, menaruh tangan di paha sambil menepuk-nepuknya dengan sedikit suara. “Karena kami tahu Mas Rian di sini seorang diri. Kami hanya—”
Aku memotong ucapannya. “Kenapa kalau saya sendiri? Banyak orang yang memilih hidup sendiri. Dan mereka hanya tidak ingin terganggu oleh siapa pun.”
Suaraku meninggi. Emosiku hampir lepas kendali.