Dinding-dinding di sekelilingku berwarna putih bersih, tanpa noda, dan tidak bercelah. Permukaannya dilapisi oleh bahan sintetis halus yang tidak memantulkan bayangan, seolah sengaja dirancang agar tidak ada satu pun penghuni di dalamnya yang bisa melihat refleksi dari kehancuran wajah mereka sendiri.
Ya, tidak ada cermin. Tidak ada jendela kaca yang menghadap ke pekarangan. Ruangan ini berukuran empat kali empat meter, sebuah kubus sempurna yang mengurung seluruh eksistensiku.
Suara dengung mekanis dari pendingin ruangan yang tertanam di balik langit-langit menjadi satu-satunya ritme yang menemani kesunyianku. Bunyi statis yang monoton itu menggantikan suara jangkrik malam dan gesekan dedaunan.
Aku sering duduk bersila di tengah lantai ubin vinil yang hangat. Melipat kedua kaki dan menatap lurus ke arah pintu besi tebal yang tidak memiliki gagang di bagian dalam. Terkadang, aku mencium bau lavender memenuhi hidung.
Pintu itu hanya bisa dibuka dari luar oleh petugas berpakaian pelindung serba putih. Mereka datang pada jam-jam tertentu untuk mengantarkan makanan dan obat-obatan. Interaksi sosialku direduksi hingga ke titik paling minimal. Aku sendiri, menikmati kesepian tanpa gangguan. Namun, bukan berarti aku bebas. Ini karantina yang sesungguhnya.