Cermin oval meja rias di kamar Ibu memantulkan wajahku yang merah padam. Tanganku menggenggam ponsel miliknya, jemariku gemetar saat menggulir layar. Gulir ke bawah, terus ke bawah, chat mesra, panggilan sayang, permintaan pap, foto yang dikirim sekali lihat, catatan video call, beberapa video terkirim ....
Ini nggak benar, batinku berkali-kali.
Pandanganku kabur, berkali-kali aku mengerjap untuk memastikan penglihatanku salah. Namun, tidak. Aib ini terpampang jelas di mataku. Dadaku bergemuruh, rasa sesak dan kecewa bergelinjang, mengusikku. Aku menoleh ke pintu kamar yang terbuka sedikit, Ibu masih di kamar mandi, suara samar air keran yang mengalir masih terdengar. Jantungku berdebar saat mencoba memutar salah satu video, gagal. Media sudah terhapus. Aku memilih video lain. Sama saja. Entah sudah berapa video yang kucoba putar ketika akhirnya ada yang berhasil terbuka. Suara desahan keras langsung membahana begitu video terputar, saking terkejutnya, aku hampir saja menjatuhkan ponsel ibu. Buru-buru kukecilkan volume yang disetel maksimal. Jantungku berdebar makin kencang, mataku melotot, menatap layar tak percaya. Kepercayaan diri Ibu saat melakukan gerakan sensual dengan hanya menggunakan daster tipis yang sama sekali tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya membuatku nyaris pingsan.
Keran dari kamar mandi sudah tidak berbunyi, sebagai gantinya, terdengar suara Ibu bersenandung. Cepat aku keluar dari aplikasi Whatsapp, menghapus jejak, memperbesar volume, dan dengan tangan gemetar, meletakkan lagi ponsel di atas meja rias. Tanganku meremas ujung kardigan yang kukenakan saat menyelinap keluar dari kamar Ibu, kembali ke kamarku.
Perlahan, aku berbaring di atas ranjang. Jantungku masih berdebum riuh, rasanya susah untuk percaya kalau aku tidak melihatnya sendiri. Aku menutup wajah, ada gelombang panas yang naik ke wajahku. Bisa-bisanya Ibu berbuat seperti itu.
Pintu kamarku terbuka. Spontan aku menoleh.
“Kenapa, Mbak?” Biru, adik laki-lakiku satu-satunya melongok dari balik pintu.
“Kenapa apanya?”
“Mbak Lila kayak kaget gitu.”
“Oh, nggak kenapa-kenapa. Kapan kamu pulang? Mbak nggak dengar suara motor kamu.” Aku bangkit dari rebahan dan duduk di pinggir tempat tidur.
“Belum lama, ini aku baru ganti baju.”
“Udah makan?”
Biru mengangguk. “Udah tadi di sekolah, ditraktir Devon.” Devon sahabat Biru sejak SD, mereka tidak terpisahkan. “Ibu ke mana, Mbak?”
Mendengar Biru menyebut Ibu, perasaanku kembali terganggu. Tanpa sadar, aku mengembuskan napas berat, menggeragap ketika melihat Biru mengernyit.
“Eh, Ibu di kamar kayaknya, tadi sih lagi mandi,” ucapku cepat.
“Mbak Lila beneran baik-baik aja? Mukanya kok pucat gitu.”