Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #3

Bab 2 Musuh yang Paling Dibencinya

Stasiun televisi nasional yang kutonton sedang menayangkan acara kuliner, suara cowok tanpa wajah menarasikan video pendek yang mereka ambil dari akun-akun food vlogger daerah, entah dengan izin atau tidak. Punggungku bersandar pada sofa ruang tengah sementara pandanganku lurus ke layar, mendengarkan, tapi tidak menyimak.

“Mbak,” panggil Biru dari belakangku.

“Hm,” gumamku tanpa menoleh.

“Paket.” Dia duduk di sampingku, meletakkan bungkusan hitam di depanku.

Keningku mengernyit. “Paket buat siapa?” tanyaku heran, merasa tidak memesan apa-apa.

Biru mengangkat bahu. “Nama penerimanya ditulis Lila Arunika, berarti punya Mbak Lila dong.”

Aku membalik paket, menemukan label pengiriman atas namaku. “Mbak nggak pesan apa-apa deh.”

“Tak tahu. Betewe, itu COD, Mbak. Tadi bayar pakai uangku dulu.”

“Hah, COD? Duh, Mbak nggak ngerasa pesan apa-apa lho, jangan-jangan penipu ini.”

“Masa sih, Mbak. Kurirnya tadi yang biasa ngantar kok.”

“Bisa jadi seller-nya yang nipu, kan? Kirim paket ke orang random biar dapat bayaran.”

“Waduh, iya juga ya. Buka aja deh, Mbak.” Biru terlihat cemas, dia langsung meraih paket dari tanganku.

“Mbak yang buka, kamu videoin,” ujarku menahan tangannya.

Biru mengarahkan kamera ponselnya ke arahku saat aku mulai membuka bungkusan itu. “Kayaknya baju, atau apa gitu,” gumamku, melihat kain warna merah yang menyembul begitu plastik hitamnya robek.

Aku menyobek plastik itu lebih lebar. “Fix baju,” kataku mengeluarkan isi bungkusan dan membentangkannya dengan kedua tanganku. Ada dua baju, merah dan hitam, dan ... transparan.

“Baju apa itu, Mbak?”

Kulit wajahku terasa terbakar. Aku buru-buru meremas kain itu menjadi buntalan kecil dan memasukkannya kembali ke dalam plastik.

“Astaga ... Mbak lupa, ini emang Mbak yang beli, buat kado teman yang mau nikah,” ucapku beralasan.

Pasti Ibu, batinku gusar. Ibu yang membeli lingerie ini.

“Yaelah, Mbak Lila pikun,” seloroh Biru terbahak. “Videonya boleh aku hapus aja nggak? Memori hape-ku penuh soalnya.”

“Hapus aja. Sini Mbak yang hapus.” Tanpa menunggu persetujuannya, aku sudah lebih dulu merebut ponsel dari tangannya. Jariku cepat menelusuri galeri, menghapus video dan memastikan semuanya hilang sampai ke folder sampah. Setelah yakin bersih, kuulurkan benda itu padanya.

Biru mengantongi ponselnya lalu berdiri. “Jangan lupa gantiin duitku yang tadi buat bayar COD, Mbak.”

“Beres. Nanti Mbak kirim ke Dana, ya.”

Begitu Biru pergi, keheningan langsung turun bersama dengung samar dari televisi. Acara kuliner yang tadi kutonton sudah berganti jadi talk show. Aku meraih remot, mematikan TV, lalu membawa bungkusan paket itu ke kamar.

***

“Lil, kamu tadi terima paket Ibu?” tanya Ibu mendekatiku yang sedang menggoreng bakwan untuk makan malam. Sikapnya biasa saja, seolah-olah sebelumnya dia tidak pernah menendang tulang keringku.

Lihat selengkapnya