“Jadi benar Ibu kasih uang kita ke laki-laki itu,” tegasku dingin. Raut wajah Ibu menjelaskan semuanya. “Berapa,” desisku, sesuatu memukul-mukul dadaku, “berapa uang yang Ibu kasih ke laki-laki mokondo itu?”
Terdengar desing tajam sebelum telapak tangan Ibu menghantam pipiku, disusul rasa panas yang menjalar hingga telingaku berdenging.
“IBU!” sentak Biru terkejut.
Aku terhuyung ke belakang, merasakan denyut nyeri di tempat tamparan mendarat. Ibu berdiri di depanku dengan napas tersengal, wajahnya tegang, matanya berkilat marah—yang bisa kukenali sebagai upaya menutupi rasa malunya. Tanpa satu kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkanku terpaku di tempat, sementara rasa perih di pipi perlahan tenggelam oleh sesuatu yang menusuk di dada.
“Mbak Lila nggak apa-apa?”
Biru menghampiriku, menyentuh pundakku pelan. Wajahnya terlihat khawatir sekaligus bingung. “Aku bisa menebak apa yang terjadi, Mbak, tapi aku mau penjelasan dari Mbak Lila,” ujarnya tegas.
Aku menghela napas, menggerak-gerakkan rahangku akibat rasa kaku yang tebal, kemudian meringis kesakitan. “Sini,” perintahku kemudian, mengajak Biru ke teras belakang yang berbatasan dengan dapur, masih sambil mengusap-usap pipi.
Kami duduk di balai-balai, memandangi apotek hidup peninggalan Bapak. Semasa hidupnya, Bapak rajin berkebun di pekarangan belakang rumah kami yang luasnya tak seberapa, bukan hanya tumbuhan obat, tapi juga sayur-mayur. Sekarang, aku dan Biru yang merawatnya.
Sebelum bercerita, aku menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Lalu, kata demi kata meluncur dari celah bibirku, menumpahkan semua yang mengganjal pada adik semata wayangku, kecuali bagian Ibu yang mengirim foto dan video tak senonoh. Sesekali aku menoleh padanya untuk mengamati raut wajahnya. Biru cukup tenang, meski aku bisa melihat seringkali dahinya mengernyit. Aku lega dia tidak menyinggung soal paket lingerie, berharap dia belum melihat jelas bentuk baju itu ketika aku membentangkannya tadi.
“Jadi Ibu mentransfer uang ke laki-laki itu?” tanyanya pelan.
“Baru dugaan, tapi melihat reaksi Ibu tadi, kemungkinannya iya,” gumamku murung. “Tapi kalau emang itu benar, Mbak yakin nggak banyak. Mungkin seratus dua ratus buat beli kuota, Ibu nggak mungkin sebodoh itu ngasih duit sampai jutaan ke laki-laki yang baru ia kenal kan, Ru?”
Biru tidak menyahut. Aku meliriknya, ekspresinya datar, tapi dia terlihat sedang berpikir keras.
“Ru.”
Biru menoleh. “Eh, iya,” ucapnya terdengar tak yakin.
Aku jadi resah, sesaat pikiranku menerawang. Akses ke tabungan kami dipegang Ibu sepenuhnya, tapi seharusnya itu aman. Ibu tidak mungkin bertindak gila demi laki-laki itu.
“Mbak.” Biru memanggilku.
“Hm.”
“Mbak ingat kemarin dulu aku pernah cerita bantuin orang ganti ban mobil?”
“Yang ibu-ibu itu?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Anaknya telepon aku kemarin.”
“Oh, ya? Mau apa?” Aku bertanya khawatir, siapa tahu Biru salah pasang ban dan menyebabkan kerusakan mobil orang itu.