Fakta jika uang untuk kuliah Biru telah lenyap membuatku syok sampai-sampai otakku terasa kosong. Aku tidak bisa mengingat apa yang kulakukan kemudian, aku hanya ingat Biru membimbingku pulang, langkah kaki kami tersaruk di keheningan malam. Sekarang, begitu mampu mengambil alih kembali pikiran dan ragaku, yang bisa kulakukan hanya menangis.
Biru duduk di sampingku, di sofa ruang tamu kami, berusaha menenangkanku meski dia sendiri terlihat bingung.
“Tega banget Ibu, Ru ... apa sih yang ada di otak Ibu, kok bisa-bisanya transfer semua tabungan kita ke laki-laki itu,” cerocosku di antara isakku.
“Kita kan belum tahu apa Ibu beneran transfer ke laki-laki itu, Mbak ....”
“Emangnya ke siapa lagi?!” sahutku cepat. Nada suaraku terdengar lebih keras dari yang kuniatkan.
“Mungkin ada yang pinjam uang itu, atau Ibu menanam saham di suatu perusahaan ....”
Aku menatap Biru tajam dengan air mata yang masih berderai. “Jujur, Ru! Kamu beneran mikir kayak gitu?”
Biru menunduk, tangannya terangkat dan menggaruk kepalanya yang nyaris botak. Dia tidak lagi berbicara. Suasana menjadi hening, hanya isakku yang mengisi ruangan. Namun, beberapa saat kemudian, ada suara lain yang terdengar. Derit pintu yang diikuti langkah kaki mendekat. Mungkin suara kami membuat ibu terbangun.
“Ada apa ini?” tanyanya sambil menguap. Namun, melihat kartu ATM yang tergeletak di meja, kantuknya langsung lenyap. Terbukti tangannya bergerak cepat menyambar benda tersebut. “Kenapa kartu ATM Ibu di sini?!” serunya panik.
“Kami udah tahu semua, Bu,” kataku dengan suara bergetar. “Ibu kemanakan tabungan buat kuliah Biru?”
Ibu memelototiku, nyaliku tak berkedip, kutatap balik ia dengan sorot mata tegas.
Sadar tidak bisa mengintimidasiku, dia melengos. “Dipinjam teman Ibu. Nanti juga dikembalikan,” ujarnya bersiap masuk kamar lagi.
“Teman? Teman yang mana?! Aku dan Biru kenal?” cecarku sebelum Ibu benar-benar pergi.
“Kalian nggak kenal. Udah! Ibu mau tidur lagi!”
Sontak aku berdiri, menghalangi tindakan Ibu dengan mencengkeram lengannya. “Ibu nggak bisa menghindari kami. Kalau emang uangnya dipinjam, dipinjam siapa? Kasih tahu aku.”
“Lila! Apa-apaan kamu? Lepasin! Tangan Ibu sakit.”
“Bilang dulu siapa orangnya, Bu? Apa si Rendi Rendi itu?”
Wajah Ibu merah padam, raut mukanya mendadak mengeras, dagunya terangkat, dan matanya berusaha keras menantangku. “Kalau iya kenapa? Ibu udah bilang, nanti juga dikembalikan.”
“Gimana kalau nggak dikembalikan?”