Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #6

Bab 5 Masalah Baru

Ketika berangkat kerja tadi, kepalaku sudah agak pusing. Semalam, saat kembali berbaring di ranjang, air mataku berjatuhan lagi, memikirkan uang 59 juta kami yang raib, sehingga pagi ini terbangun dalam keadaan lesu karena kurang tidur. Bapak menabung selama bertahun-tahun dengan menyimpan mimpi kelak Biru bisa kuliah. Setelah Bapak meninggal, aku yang melanjutkan tabungan Bapak, memercayakannya pada Ibu seperti yang Bapak lakukan. Namun, dengan entengnya Ibu “meminjamkan” uang itu pada laki-laki yang baru ia kenal.

Dan, sekarang, kondisiku yang tidak fit memengaruhi pekerjaanku.

“Kamu kayak nggak fokus, lagi sakit, Lil?” tanya Mbak Ines, head waiter kami, saat aku baru kembali dari mengantar pesanan.

Aku menghapus keringat di pelipis dengan lengan baju.

“Sampai sekarang kamu udah dua kali salah meja, nggak biasanya seperti ini.”

“Maaf, Mbak,” gumamku, “aku memang lagi agak pusing.”

“Oh, pantes. Mau istirahat dulu aja?”

“Kalau boleh aku mau izin pulang aja, Mbak,” pintaku, yakin tidak akan bisa melanjutkan bekerja.

“Oh ya, boleh. Nggak papa, kamu pulang aja. Biar aku yang hendel kerjaan kamu. Masih bisa pulang sendiri atau mau diantar?”

“Saya masih bisa pulang sendiri kok, terima kasih, Mbak.”

Sekitar lima menit kemudian aku sudah mengendarai motor dalam keadaan setengah melamun. Pikiranku berkecamuk, bayangan wajah tua Bapak dengan senyumnya yang tulus membayangiku. Tanpa bisa kucegah, aku mulai menangis lagi. Rasa putus asa mencengkeram erat. Bisa kurasakan tanganku yang gemetar, bahuku yang naik turun menahan isak, dan jantungku yang seakan-akan siap meledak. Amarah yang terpendam semakin memadat karena tak kuberi kesempatan keluar, memenuhi dada, membuat sesak, menyebarkan penderitaan.

Sebuah truk dari arah berlawanan terlihat dari kejauhan. Pikiranku nanar. Kupandangi truk yang semakin mendekat. Lajunya cepat. Jika aku mengarahkan motorku lebih ke tengah sedikit saja, semuanya akan selesai dalam waktu singkat.

Angin menampar saat truk melintas melewatiku. Aku mengembuskan napas panjang, tak sadar sudah menahannya selama beberapa detik. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak. Aku tidak akan menyerah.

Rumah dalam keadaan kosong ketika aku membuka pintu. Biru sudah pasti masih di sekolah, tapi Ibu tidak ada di mana-mana. Aku berusaha tidak peduli, langsung masuk kamar dan membaringkan tubuhku di atas kasur, berharap bisa segera terlelap agar semua masalah terlupakan. Namun, otakku yang penuh membuat mataku sulit terpejam.

Kemarin, setelah mengetahui nama Facebook laki-laki bernama Rendi itu, aku dan Biru langsung mencari tahu. Kami mengunjungi profil Rendi, tapi tidak banyak yang kami temukan, aku bahkan tidak yakin dia memakai fotonya sendiri. Interaksi di sana hanya dari teman-teman Facebook-nya—yang bisa jadi baru dikenal ketika membuat akun. Tidak ada foto yang menandai seseorang yang bisa jadi bukti dia benar-benar memiliki kehidupan nyata. Tidak ada lokasi tempat tinggal, atau tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Tidak ada petunjuk apa-apa.

Kartu yang sudah terbuka ternyata tidak berguna sama sekali.

***

Sudah seminggu lebih sejak pertengkaranku dengan Ibu. Aku merasa seperti sedang bermain kucing-kucingan dengannya di dalam rumah kami yang sempit karena dia menghindariku. Ibu lebih sering berada di kamarnya, menutup rapat-rapat pintunya, bahkan ia sudah memanggil tukang untuk memperbaiki kunci pintu kamarnya agar aku tidak bisa masuk sembarangan. Terlihat sekali usahanya untuk tidak berada dalam satu ruangan denganku.

Semalam hujan badai. Angin menggeser beberapa seng atap rumah kami sehingga menimbulkan kebocoran. Aku dan Biru harus memindah perabot agar tidak terkena air dan menempatkan ember-ember di bawah bagian atap yang bocor. Kami membereskan kekacauan itu sampai menjelang subuh, dan selama itu, Ibu sama sekali tidak menampakkan diri.

Sudah lewat dari waktu subuh ketika aku membuka tirai dan jendela kamar, membiarkan udara dingin yang menyejukkan memenuhi ruangan. Hujan telah berhenti, menyisakan aroma tanah basah dan titik-titik air di dedaunan. Merasa kecapean setelah semalaman terjaga, aku merebahkan tubuh ke kasur, terlelap tak lama kemudian.

Aku terbangun saat matahari sudah tinggi, sinarnya menerobos masuk, jatuh tepat di atas tubuhku. Sejenak aku kehilangan orientasi, menutupi mata yang silau, kemudian secara perlahan ingatan merayap menghampiri. Aku melirik jam bulat di dinding kamarku yang dicat putih tulang, persis di atas pigura besar berisi lukisan fotoku dan Biru waktu kecil yang umurnya sudah lebih dari satu dekade, pukul 10.55. Aku menghela napas lega, masih ada sekitar dua setengah jam sampai aku berangkat kerja. Selama lima menit aku masih menggeletak di atas kasur, kemudian memaksa diri untuk bangun meski suasana hatiku terasa muram.

Di meja makan hanya ada roti tawar yang tinggal beberapa potong dan sebotol selai yang isinya tinggal setengah, Ibu tidak masak. Atau dia juga belum bangun? Aku meraih dua lembar roti dan mengolesinya selai, untuk mengganjal perut. Lalu membuat secangkir kopi sebagai teman makan. Aku baru memikirkan hendak memanggil tukang untuk membetulkan atap ketika Biru muncul di ambang pintu dengan wajahnya yang masih mengantuk. Untungnya sekarang hari Minggu, jadi aku tidak perlu melihatnya kedubrugan karena terlambat ke sekolah.

Lihat selengkapnya