Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #7

Bab 6 Dejavu

Bapak yang mengajariku naik motor sport waktu aku SMA, beliau berpendapat putri satu-satunya ini harus bisa melakukan banyak hal karena sesepele apa pun sebuah kemampuan, pada akhirnya akan berguna.

Pukul 13.57 aku sudah memakai jaket Biru sekaligus helmnya. Saat sedang menstarter motor, Mak Yani tetangga sebelah melongok dari pagar pembatas rumah kami.

“Ru, ibumu ke mana tadi pergi pagi-pagi sekali?” tanyanya setengah berteriak.

Aku mematikan mesin, membuka helm. “Ini Lila, Mak,” kataku sambil memasang cengiran.

“Oalaaah, Lila. Mamak kira Biru tadi.” Mak Yani terkekeh.

Aku tertawa. Mak Yani tidak bisa disalahkan, postur tubuhku dan Biru hampir sama. Dengan memakai jaket, helm, dan motor Biru seperti ini, wajar jika beliau salah menduga.

“Mak Yani tadi lihat pas Ibu pergi ?” tanyaku penasaran.

“Lihat. Bawa motor kamu dia, buru-buru banget.”

“Ibu nggak bilang apa-apa?”

“Nggak, aku nyapa aja nggak dijawab, kayaknya sih nggak dengar. Emang ibumu nggak pamitan sama kalian?”

“Barusan udah telepon sih, Mak. Katanya lagi ada kepentingan di Umbulreja.” Aku bersiap memakai helm lagi.

“Walah, jauh amat. Ada kepentingan apa emangnya?”

Aku tersenyum. “Kurang tahu deh, Mak. Aku permisi dulu ya, Mak, mau berangkat kerja,” kataku menghentikan obrolan.

“Oh, iya iya, Lil.”

Aku memakai helm, lalu menstarter motor dan segera melajukannya keluar dari halaman.

Lebih dari setengah perjalanan kemudian, aku merasa Mercedes-Benz hitam di belakang mengikutiku. Aku tidak khawatir karena sebentar lagi sampai tujuan, lagi pula tidak mungkin ada orang yang nekat macam-macam di jalan yang ramai seperti ini. Jadi, ketika pengemudi Mercedes-Benz hitam itu mempercepat laju mobilnya dan dengan gerakan mulus berhenti dalam posisi menghadang, aku juga menghentikan motor dengan tenang.

Seorang pria tinggi keluar dari mobil. Rambutnya yang agak berantakan tertiup angin, ujung jas yang ia kenakan berkibar sedikit, dengan satu tangan yang masih memegang pintu mobil, dia melepas kacamata hitamnya. Kesan jenaka langsung terpancar begitu matanya terlihat. Dia tersenyum.

“Biru,” panggilnya akrab.

Aku mengamatinya. Garis rahang tegas, batang hidung yang tinggi, sorot matanya tajam meski terkesan ramah, dengan warna iris yang terlihat lebih muda dari warna iris orang Indonesia pada umumnya. Pria itu memiliki alis tebal, dengan kedua pangkal yang menukik dan hampir terpaut. Dari penampilan dan raut wajahnya, dia tidak terlihat seperti orang lokal.

“Aku mengenali motor dan jaketmu,” kata pria itu lagi melihatku diam saja.

Aku membuka helm, merapikan rambutku sedikit, kemudian berkata, “Saya kakaknya Biru.”

“Oh.” Wajah pria di depanku terlihat terkejut, bibirnya membentuk huruf o sangat jelas, membuatku tersenyum. “Maaf,” ucapnya kemudian.

“Nggak apa-apa, Mas, tadi tetangga kami juga mengira saya Biru.”

Lihat selengkapnya