Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #8

Bab 7 Hari Ketika Ibu Menghilang

Kemarin, setelah terpaksa menerima Ibu akan tetap dengan kekeraskepalaannya, aku membiarkan Biru membimbingku ke kamar. Sesorean itu aku mengurung diri, keluar hanya untuk mandi dan kemudian tenggelam lagi dalam campuran emosi yang menggempurku. Pagi ini aku merasa limbung, seakan-akan hidupku telah kehilangan tempat berpijak dalam semalam. Kupaksa tubuhku bangkit dan duduk di tepi ranjang, kedua tangan berada di pangkuan, pandangan lurus ke jendela yang gordennya belum tersingkap. Dari ventilasi di atas jendela, langit sudah menunjukkan tanda-tanda fajar.

Keriet suara pintu yang terbuka membuatku berpaling. Biru berdiri di ambang pintu kamar, menatapku khawatir.

“Nggak papa kalau aku berangkat sekarang, Mbak?” pamitnya ragu.

“Masih pagi gini,” gumamku serak, melirik jam dinding, 04.35.

“Aku udah janji mau bantu-bantu di bengkel Devon dulu, Mbak. Ada beberapa motor yang mau diambil hari ini, tapi ayah Devon harus ke luar kota.” Biru sudah sering membantu di bengkel orang tua Devon sejak SMP, dia memang tertarik dengan mesin dari dulu.

“Oh ya, nggak papa. Kamu udah sarapan?” tanyaku.

Biru mengangguk. “Aku ke rumah Mak Yani tadi. Mbak Lila juga kubelikan satu di atas meja, nanti dimakan ya, Mbak.”

Setiap pagi, Mak Yani jualan nasi uduk di pinggir jalan depan gang, kami biasa beli di rumahnya sebelum beliau berangkat.

“Ya, makasih, Ru.”

“Mbak Lila hari ini berangkat kerja?”

“Berangkat,” jawabku. Saat ini, melakukan kesibukan akan sangat membantu. “Kamu masih ada uang saku?”

“Masih, kok,” sahut Biru.

“Pulangnya jangan malam-malam.”

“Amaaan. Aku berangkat dulu ya. Mbak.” Biru menghampiriku, salim, kemudian melesat pergi.

Sepeninggal Biru, aku menoleh ke arah cermin dekat kepala ranjang, menatap wajahku yang terlihat kuyu. Mataku sembab, rambutku lepek, dan bibirku kering, mengelupas di beberapa tempat. Aku berdiri, meraih kardigan yang tersampir di kursi meja rias dan memakainya, lalu keluar kamar. Aku ingin tahu apa Ibu sudah mau menemuiku. Ini akan melelahkan, tapi aku harus bicara dengannya.

Lihat selengkapnya