Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #9

bab 8 Bagian Gersang pada Hatiku

Aku sampai di rumah Bulik Dewi sekitar setengah jam lalu. Setelah memberiku kesempatan untuk mandi dan istirahat sebentar, beliau mengajakku duduk di teras depan. Bulik Dewi satu-satunya saudara kandung Ibu, beliau seorang dosen, usianya sudah menginjak kepala empat, tapi belum menikah.

“Sebenarnya ada masalah apa?” todong Bulik Dewi langsung.

“Ibu nggak cerita apa-apa sama Bulik?”

Bulik Dewi menggeleng. “Ibumu langsung mengurung diri di kamar sejak dia datang. Kalian bertengkar?”

Bertengkar terlalu sederhana untuk menggambarkan situasi kami saat ini. Selama beberapa saat aku diam, memikirkan akan memulai dari mana. Bulik Dewi sangat tahu seperti apa hubunganku dengan Ibu, dia yang paling merasa bersalah ketika Ibu pergi meninggalkan aku dan Biru dulu.

“Kayaknya Ibu lagi puber kedua, Bulik,” kataku setelah menghela napas panjang.

Bulik Dewi tidak terlihat terkejut, seolah-olah hal absurd seperti itu sudah biasa terjadi pada Ibu. “Dia kepingin menikah lagi?” tanyanya.

“Ibu nggak bilang begitu, tapi dia punya pacar.”

“Pacar?” Ada kesan ganjil pada nada suara Bulik Dewi, sementara sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.

“Mereka kenal di Facebook. Aku nggak tahu pasti, tapi sepertinya laki-laki itu lebih muda dari Ibu.”

Lalu, tanpa ada yang ditahan-tahan, aku menceritakan semuanya. Saat bercerita, pandanganku tidak pernah lepas dari Bulik Dewi. Perubahan raut mukanya terbaca jelas, dari yang terkejut, marah, kemudian merasa malu. Terakhir, wajahnya sudah pucat pasi.

“Aku mau ajak Ibu pulang, Bulik. Ibu harus buat laporan ke kantor polisi,” gumamku mengakhiri ceritaku. “Kalau nggak, motorku bakal ilang selamanya.”

“Duh! Mbak Ika ini ya, kok ndak pernah belajar dari masa lalu,” gerutu Bulik Dewi kalut. “Biar Bulik bicara sama ibumu.” Dia berdiri, bergegas masuk ke rumahnya.

Aku bersandar pada punggung kursi, menunggu. Lalu, samar-samar aku mendengar suara pintu diketuk.

“Mbak, Mbak Ika, keluar to, Mbak, aku mau ngomong.” Bulik Dewi memanggil-manggil.

Aku ragu suara lembut Bulik Dewi akan bisa membuat Ibu keluar dari kamar. Namun, saat mendengar kalimat selanjutnya mau tak mau aku merasa lega.

Lihat selengkapnya