Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #10

Bab 9 Ketika Keadaan Sudah Stabil

Ibu sedang duduk menonton TV di ruang tengah ketika aku baru pulang kerja. Dia menoleh sebentar kemudian kembali menatap layar kaca. Raut mukanya tampak masam.

“Udah makan, Bu? Ini aku bawakan soto,” kataku mengangkat kantung plastik yang kutenteng.

Ibu sama sekali tidak melirikku.

“Biru udah pulang?” tanyaku lagi.

Melihat Ibu yang tak menggubris omonganku, aku menghela napas, lalu pergi ke dapur.

Sambil menyiapkan soto ke mangkuk, aku memanggil Biru. Dia langsung muncul.

“Wah, Mbak Lila bawa soto ya? Kebetulan banget aku belum makan,” ucapnya jenaka, langsung menghampiri meja dapur dan membantuku memanasi kuah soto.

“Ibu nggak masak, Ru?” Hari ini aku shift pagi, setelah membeli nasi uduk buat sarapan tadi, aku langsung berangkat.

Biru mengedikkan bahu.

“Berarti Ibu belum makan?”

“Kayaknya udah sih, tadi Mak Yani bilang Ibu makan di sana.”

“Kamu belum makan dari pulang sekolah?

Biru hanya melemparkan cengiran.

“Uang sakumu habis ya? Kalo habis bilang, jangan diam aja.”

“Masih sih, Mbak. Biru malas keluar aja tadi.”

“Jangan dibiasakan telat makan, kalau lambungmu kena nggak enak lho.”

“Iya, Mbak.”

Sementara Biru mengambil nasi dan mulai menikmati sotonya di meja makan, aku membawa soto yang satu lagi ke ruang tengah.

“Makan dulu, Bu,” kataku meletakkan mangkuk ke meja, lalu duduk di samping Ibu.

Ibu hanya melirik soto di depannya sebentar, lalu dia mulai menggonta-ganti channel televisi. Sejak kepulangan kami dari rumah Bulik Dewi, Ibu bertingkah seperti anak kecil yang merajuk. Dia sama sekali tidak mau berbicara denganku, seolah-olah aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

“Ibu sampai kapan mau bersikap kayak gini sama aku?” gumamku lelah.

Ibu langsung melirikku judes, dia melempar remot ke samping, berdiri dengan gerakan kasar, dan pergi ke kamarnya. Aku terlonjak saat suara pintu kamar yang dibanting menghantam telingaku. Kuelus dada sambil menarik napas panjang. Aku tidak ingin mengakui ini, tapi kelakuan Ibu membuat kesabaranku menipis. Jika bukan karena pesan Bapak, aku pasti akan memilih pergi.

“Kalian berdua jaga ibu kalian ya ..., apa pun yang terjadi, jangan pernah berhenti mencintai dia.”

Lihat selengkapnya