Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #11

Bab 10 Hal-hal yang Seharusnya Dilakukan Ibu

Aku sering bertanya-tanya, saat Ibu memilih pergi bersama selingkuhannya dulu, apa tidak terpikirkan olehnya, kehidupan kami, anak-anaknya akan jadi sangat berbeda? Bahkan Biru, bayi satu tahun yang begitu lengket dengannya itu tidak bisa menjadi penahan agar dia tidak meninggalkan kami.

Satu hari setelah kepergian Ibu, Biru demam tinggi. Selama berhari-hari Bapak cuti bekerja dan aku membolos sekolah karena harus menjaganya di rumah sakit. Selama itu pula kami menjalani hari dengan bingung. Segalanya terasa lambat dan menyakitkan, seakan-akan waktu diseret dengan paksa agar tetap bisa berjalan normal. Bapak sering menangis malam-malam ketika mengira aku sudah tidur. Ia terguguk di samping ranjang Biru dengan kepala menunduk. Suaranya bersahutan dengan bunyi tetes air dari keran bocor wastafel kamar puskesmas kelas tiga yang kami tempati.

Aku sendiri hanya bisa diam, meringkuk di atas karpet di lantai dekat kaki ranjang. Selimut menutupi tubuhku sampai ke leher, sementara mataku nyalang, memandang kolong tempat tidur yang tanpa setitik pun debu. Usiaku 6 tahun saat itu, tapi aku sudah sedikit mengerti alasan Ibu pergi. Bukan. Bukan pergi, tapi kabur. Kabur bersama laki-laki lain.

Hingga suatu sore Bulik Dewi berkunjung. Bapak terpaksa menghubunginya karena membutuhkan bantuan. Begitu melihatku setelah kedatangannya, Bulik Dewi menangis, lalu memelukku erat, berkali-kali meminta maaf untuk perbuatan yang tidak ia lakukan. Hari-hari selanjutnya Bulik Dewi menggantikan menjaga Biru, sedangkan Bapak mulai bekerja lagi dan aku kembali bersekolah. Jika bapak sudah pulang kerja, Bapak yang menjaga Biru dan Bulik Dewi menemaniku di rumah. Seminggu dari kedatangan Bulik Dewi, kondisi Biru sudah jauh lebih baik sehingga ia diperbolehkan pulang. Aku masih ingat perasaan lega yang langsung membungkusku saat itu, memupus ketakutan yang sempat menghantuiku selama beberapa waktu. Namun, meskipun rasa takut kehilangan Biru bisa teratasi, situasi tidak menyenangkan di masa-masa tersebut masih sering terbawa mimpi sampai sekarang—bertahun-tahun kemudian. Kejadian ketika aku terbangun dalam keadaan gulita dan mendengar tangisan Biru masih menempel kencang di memoriku, bahkan debar jantung dan ketakutannya masih bisa kurasakan.

Kami saling menopang menjalani tahun-tahun berikutnya. Rumah kami telah kehilangan salah satu tiang penyangganya, tapi kami berhasil bertahan. Aku sadar, kehidupan setelah Ibu pergi tidak lagi sama seperti dulu. Bapak memang berusaha keras menambal kekosongan yang ada pada keluarga kami, tapi kehadiran seorang Ibu tidak akan bisa digantikan, seburuk apa pun ibu itu.

Bapak mengurus kami dengan baik, memastikan kami cukup makan dan mempunyai mainan, meski dia harus bekerja keras. Malam menjaga gudang, pulangnya langsung ke pasar untuk berbelanja sayuran, kemudian sambil membawa Biru menjajakannya keliling kampung sementara aku pergi sekolah. Saat aku pulang, nasi hangat sudah siap di meja makan, komplit dengan  sayur dan lauk-pauknya agar gizi kami terpenuhi.

Namun, sekeras apa pun usaha Bapak, seorang ayah tetaplah ayah. Ada hal-hal yang tidak ia pahami saat merawat putrinya apalagi yang beranjak remaja. Hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang Ibu.

Dulu aku mengira ketidakhadiran Ibu dalam kehidupanku bukanlah hal yang mengganggu. Mungkin karena aku tidak dekat dengannya, tak ada dia pun aku masih ceria, masih bisa bermain tanpa beban seperti anak-anak lainnya. Sebaliknya, justru figur seorang Ibu sangat penting bagi Biru. Meski selama umurnya hampir tidak mengenal wanita itu, Biru sangat mendamba kehadirannya. Dalam benaknya semua ibu sama seperti ibu teman-temannya, yang sering memangku, yang suka memeluk, yang selalu siap jika dibutuhkan. Dia berpikir, semua ibu sayang anak-anaknya. Mungkin Ibu memang menyayangi kami, tapi jelas rasa sayangnya jauh lebih besar untuk dirinya sendiri dibandingkan untuk kami. Ibu tidak pernah tahu ketika Biru terbangun malam-malam, menangis minta dipeluk Ibu. Atau ketika dia berdiri di depan rumah sampai petang hanya untuk menunggu kepulangan Ibu. Dan ketika dia pulang sekolah sambil menangis karena diejek tidak punya Ibu. Segalanya tentang Ibu.

Aku yang selalu menghiburnya, membujuk dengan kata-kata manis setiap kali Biru merajuk, meminta diantarkan ke rumah Ibu.

“Nggak apa-apa nggak ada Ibu, Biru masih punya Mbak Lila, masih punya Bapak,” kataku setiap kali Biru bertanya kenapa Ibu nggak pernah pulang.

Namun, kalimat “nggak apa-apa nggak ada Ibu” yang sering aku ucapkan ternyata berbalik menyerangku.

Lihat selengkapnya