Untuk ukuran restoran cepat saji di daerah kabupaten, Chic & Ken terbilang cukup luas. Selain area makan di lantai bawah, tersedia ruangan di lantai dua yang biasa digunakan untuk pesta atau rapat. Saat ini, Bos dan teman-temannya ada di lantai dua. Cindy yang baru saja mengantarkan menu ke sana kembali dalam keadaan sumringah.
“Ampuuun, deh, aku kira Bos itu udah yang paling ganteng,” ujarnya sambil senyam-senyum.
“Hush!” tegur Mbak Nina geli. “Tapi, emang ada yang lebih ganteng dari Bos?”
“Temen-temennya Bos bening semuaaa!” seru Cindy heboh. Tiba-tiba dia mengangkat kedua tangannya sambil memejamkan mata, lalu berkata, “Ya, Allah ... satu aja buat hamba ya, Allah!”
Grrr ... sontak semua yang ada di dapur tertawa, Bobby sambil melempar lap ke arah Cindy, yang mendarat tepat di atas kepala gadis itu dan membuat kami makin tergelak. Selama beberapa saat dapur ramai dengan pembahasan teman-teman Bos. Cindy asyik berceloteh, sedangkan yang lain mendengarkan sambil sesekali bertanya-tanya tentang cowok-cowok itu.
“Kalian mau kerja apa ngobrol!” tegur Mbak Ines yang tanpa sepengetahuan kami menyelonong masuk. “Masih sayang gaji nih?”
“Masih dong, Mbaaak ...,” seru Bobby dan Cindy kompak, bersamaan dengan kami semua kembali ke pekerjaan masing-masing secara serentak.
Sampai shiftku habis, restoran masih ramai dengan pengunjung. Aku meninggalkan dapur setelah selesai dengan pekerjaan terakhir yang kupegang.
“Pulang dulu ya,” pamitku melambaikan tangan pada yang lain sambil lalu, masih sempat mendengar Mbak Nina menyahut menyuruhku berhati-hati.
Usai mengganti seragam kerja dengan baju saat berangkat tadi, aku bergegas keluar restoran. Sambil berjalan melintasi halaman parkir, tanganku sibuk dengan layar ponsel, membalas beberapa pesan dan kemudian beralih ke aplikasi ojek online. Aku baru mau mengonfirmasi pesan kendaraan ketika mendengar ada yang memanggil namaku.
“Lila!”
Aku mendongak, mengedarkan mata mencari asal suara. Pandanganku tertumbuk pada sosok pria tinggi berstelan jas biru tua yang tengah bersandar di samping Mercedes-Benz hitam. Pria itu berjalan mendekat ke arahku.
“Mau pulang, kan? Aku antar, yuk,”
Aku menatap pria di depanku tak berkedip. Sebuah kebetulankah ini?
“Aku ingat Biru pernah cerita kamu kerja di sini, jadi setelah reuni dengan temanku tadi, aku memutuskan menunggumu sekalian biar bisa pulang bareng. BTW, aku tahu motormu hilang.” Alang menjelaskan, seolah-olah dia bisa mendengar pertanyaan yang melintas di benakku.
“Oh,” sahutku refleks. Beberapa detik keheningan yang terasa lambat. Kemudian buru-buru aku berkata, “Saya baru saja pesan ojek online.” Aku melirik layar ponsel sambil mengusap menu “book” tanpa kentara.
“Nggak papa, kita tunggu driver-nya, nanti aku bayar, yang antar kamu tetap aku ya.” Alang berkata sambil tersenyum. Entah dia tidak sadar atau tidak peduli jika kalimat yang ia ucapkan terkesan arogan.
“Tapi, bukannya kalau driver nggak antar penumpang sampai ke titik akhir bisa kena pelanggaran ya?” Aku berusaha mencari celah untuk menolak.
“Gampang aja, dia bisa ngikutin kita.”