Sore itu, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan apa pun yang kukerjakan. Menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi hanya untuk bengong, lupa mematikan keran setelah menyiram bunga, meninggalkan kompor dalam keadaan menyala setelah merebus air dan hampir menyebabkan dapur terbakar, kemudian puncaknya adalah ....
“Mbak Lila sakit?” tanya Biru melihat tampilan capcai gosong dalam piring di atas meja makan. Dia yang tadi menemukan api berkobar di atas kompor dan memadamkannya dengan handuk basah sebelum api itu menjalar ke mana-mana.
Aku memasang wajah memelas. “Nggak kok,” jawabku, “cuma lagi ada yang dipikirin aja.”
“Soal motor ya, Mbak,” ujar Biru prihatin.
Sebenarnya bukan itu yang kupikirkan, tapi aku memilih diam.
“Kalau Mbak Lila mau, aku bisa carikan motor seken yang bayarnya bisa dicicil.” Biru diam sebentar terlihat ragu, kemudian kembali berkata, “Sebenarnya ada teman yang udah nawarin.”
“Sekarang belum dulu deh, Ru,” sahutku cepat. Aku tidak bisa memikirkan harus menyisihkan uang buat bayar cicilan ketika sedang mengejar mengganti tabungan yang lenyap untuk kuliah Biru.
Biru manggut-manggut, lalu meraih sendok bersiap mengambil capcai.
“Jangan dimakan deh, Ru, gosong gitu pasti nggak enak,” kataku menggeser piring capcai sebelum Biru sempat menyendok.
“Nggak papa, Mbak, masih bisa dimakan kok.”
“Tolong belikan sate aja ya, Ibu juga nggak bakal mau makan ini.” Aku bersikeras, lalu berdiri sambil membawa piring dan membuang isinya ke kantong plastik yang selalu kusiapkan untuk makanan sisa, kami biasa memberikannya pada Mak Yani untuk ayam-ayamnya.
Setelah makan malam, aku mengurung diri di kamar. Sengaja tak mengacuhkan Ibu yang sedang mencari perhatian. Wanita yang melahirkanku itu terlihat mondar-mandir keluar masuk kamar sejak aku pulang kerja, beberapa kali aku memergoki dia mencuri pandang padaku, tapi langsung melengos begitu kuperhatikan. Aku paham maksudnya, dia ingin ponselnya kembali. Kemarin Ibu sempat menyinggung akan meminta uang pada Bulik Dewi untuk membeli ponsel baru, aku mendiamkannya karena Ibu tidak berbicara padaku melainkan pada Biru saat aku sedang bersama mereka. Begitu caranya berkomunikasi denganku. Dia tidak pernah mau berbicara langsung padaku. Aku tidak perlu khawatir, Bulik Dewi tidak akan menuruti permintaan Ibu.
Saat sedang sibuk dengan doodle-ku yang tidak seperti biasanya terasa sulit diselesaikan, pintu kamarku diketuk dari luar.
“Mbak ...,” panggil Biru dari luar.
“Buka aja, Ru.”
Pintu berkeriet terbuka.
“Mas Alang minta nomor Mbak Lila, boleh kukasih?”
Spontan tanganku berhenti bergerak, jantungku langsung bertingkah, yang membuatku sangat bersyukur posisiku sekarang sedang membelakangi Biru. Jika tidak, dia pasti sudah melihat pipiku merona.
“Boleh, Mbak?” tanya Biru lagi. “Katanya tadi dia lupa tanya nomor Mbak Lila. Emang tadi Mbak Lila ketemu Mas Alang?” Nada suaranya terdengar penasaran.
“Oh, ya. Tadi kebetulan Mas Alang menghadiri reuni di tempat kerja Mbak, kita ketemu,” jelasku datar, menghilangkan bagian pria itu sudah mengantarku pulang. Memantapkan hati, aku menggerakkan lagi tanganku meski jantungku masih belum terkendali.