Kalau menuruti kata otak, aku tidak akan membiarkan perasaanku memegang kendali. Namun, seolah-olah telah terlalu lama diabaikan, hatiku bersikeras menyingkirkan rasionalitas.
Sabtu pagi ini, setelah berhasil membujuk Alang untuk menjemput di ujung gang dan menghindari tatapan penuh selidik Ibu serta pertanyaan “mau ke mana” Biru, aku duduk di samping Alang. Dia terlihat tampan dengan setelan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku dan celana kain dengan garis lipatan sempurna. Aku sendiri mengenakan dress midi hitam bermotif tanpa lengan, yang berpotongan A Line, dan kurangkap dengan kardigan putih tulang. Diam-diam memuji keputusanku memilih pakaian itu, untuk pertama kalinya aku merasa gaun bukanlah ide yang buruk.
Kami keluar pukul delapan lebih sedikit, yang kupikir masih sangat pagi. Jalanan belum terlalau ramai, bagaimana pun ini hari Sabtu, anak-anak libur sekolah dan para pegawai memilih bersantai di rumah mereka. Aku khawatir kami tidak memiliki tujuan, tapi Alang terlihat baik-baik saja. Dia menyetir dengan santai, bergumam mengikuti lagu yang mengalun lembut dari stereo.
Beberapa saat kemudian, dia melirikku sekilas, dan berkata, “Aku ingin mengajakmu ngobrol, tapi kayaknya kamu lagi mikir sesuatu ya?”
“Oh. Nggak,” jawabku pendek.
“Keningmu berkerut-kerut.”
“Iyakah?” Tanpa sadar aku meraba keningku.
“Udah nggak.” Alang tersenyum.
Aku menurunkan tangan, merasakan aliran hangat yang menjalari pipiku.
“Biru jadi ke ITB?” tanya Alang kemudian. Aku lega dia memilih topik itu untuk obrolan kami.
“Dia masih mempertimbangkan beberapa universitas.”
“Kalau jadi, Biru bakal membutuhkan adaptasi, perbedaan budaya dan bahasa biasanya agak menekan, tapi anak seperti dia pasti mampu.”
“Udah pasti dia mampu,” kataku agak bersemangat. “Dari dulu dia lebih mudah beradaptasi daripada aku.” Aku baru sadar menggunakan kata pertama “aku” dan bukannya “saya” setelah mengucapkan kalimat tersebut.
“Oh, ya?”
“Ya. Kami ... eng ... sering menghabiskan liburan di rumah nenek. Saban berkunjung, aku membutuhkan waktu untuk berbaur walau sudah berkali-kali ke sana, Biru nggak, dia bisa langsung akrab dengan siapa saja.”
“Jadi kamu pemalu?”
Aku mengernyit, tidak mengharapkan percakapan kami akan berpusat padaku. “Ya. Mungkin,” gumamku, “tapi Biru nggak.”