Kucing liar yang sering berseliweran di sekitar rumah melahirkan di lemari rusak yang sudah bertahun-tahun tergeletak di gudang. Anaknya tiga ekor, yang dua hitam putih, yang satu kembang telon persis seperti induknya. Ibu sudah berkali-kali menyuruh Biru membuang kucing-kucing itu, tapi aku melarang, anaknya masih terlalu kecil untuk dipindahkan.
Setiap pulang kerja aku masuk ke gudang, memberi makan induk kucing dengan ayam dan tulang sisa yang kubawa dari restoran. Seperti sekarang ini.
Aku duduk menekuk lutut di lantai gudang, tidak mengacuhkan debu-debu yang menempel pada celanaku. Memperhatikan tingkah kucing-kucing itu menjadi hiburan baru buatku. Bisa kulihat kasih sayang yang induk kucing curahkan pada anak-anaknya begitu besar. Selesai makan dia akan kembali pada mereka untuk menyusui, menjilati mereka satu per satu, dan memastikan anak-anaknya berada aman dalam lekukan tubuhnya. Mungkin perasaanku yang sentimentil, tapi melihat adegan itu selalu membuat dadaku sesak.
Ada sebuah ingatan yang menempel di dinding otakku. Puluhan tahun berlalu, memori-memori baru datang dan pergi, menumpuk, timbul tenggelam, tapi ingatan itu tidak pernah terlepas. Seperti jamur yang meskipun digosok kuat-kuat tetap melekat erat. Kadang-kadang, ingatan itu muncul secara mendadak, membangkitkan kembali perasaan ditolak, kecewa, dan sedih yang sudah cukup lama terpendam. Aku tidak tahu apa ibuku memang tidak suka dipeluk, tapi aku ingat dia sering menyingkirkanku saat mencoba memeluknya. Atau ketika aku sudah terlanjur memeluknya, tubuhnya langsung tegang, dan meskipun masih kecil, aku merasakan ketidaknyamannya. Kalimat yang dia ucapkan saat terakhir aku memeluknya, meninggalkan goresan dalam yang tidak pernah bisa disembuhkan.
“Sudah, sudah. Jangan peluk Ibu lagi, kamu bau asam, Ibu nggak suka.”
Sejak itu, aku tidak pernah mencoba lagi memeluk wanita yang telah melahirkanku itu.
Akhir-akhir ini, Ibu makin sering uring-uringan tanpa sebab. Dia mulai berbicara lagi denganku, meski kata-kata yang ia tujukan padaku lebih ke umpatan daripada percakapan. Ada saja pemicu yang bisa membuatnya menyentilku, termasuk kehadiran kucing-kucing di gudang kami yang tidak kuperbolehkan dibuang. Namun, beberapa hari ini aku mulai berpikir, penyebab kemarahannya padaku bukanlah hal-hal sepele itu, tapi sesuatu yang lain.
Di luar kendaliku, hubunganku dengan Alang bergerak cepat. Piknik pertama itu yang meruntuhkan tembok pertahananku. Aku sudah merasakannya sejak pandangan kami bertaut dengan tangan saling menggenggam dan bibir saling membalas senyum. Waktu itu, kicauan burung terdengar bagai nyanyian paling merdu dan deburan air jatuh merupakan musik terindah. Sementara di dalam dadaku, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan melompat-lompat ceria, menebarkan kebahagiaan ke seluruh bagian tubuh hingga menimbulkan kebingungan yang menyenangkan.
Setelah itu, segalanya berjalan alami, Alang meletakkan ransel di bawah pohon dan kami melepas alas kaki, lalu duduk di salah satu batu di kolam bawah air terjun. Keindahan alam yang menakjubkan menghadirkan perasaan nyaman pada diriku. Kepercayaan diriku meningkat. Aku berbicara dengan sangat lancar, sesuatu yang jarang bisa kulakukan jika di depan pria yang baru kukenal. Hari itu, seolah-olah ada warna baru yang ditorehkan dalam hidupku. Warna yang menghadirkan perasaan hangat, bahkan sampai sekarang. Jika kupejamkan mata, sebagian percakapan kami hari itu masih bisa kudengar dengan jelas.
“Mama berasal dari sini,” kata Alang melemparkan kerikil ke tengah kolam.
“Tapi, kalian tinggal di Bandung?”
Alang menoleh ke arahku. “Biru yang cerita?”
“Biru cerita kamu punya bengkel mobil dekat ITB.”
“Ah, ya. Aku menawari dia kerja part time di sana kalau kuliah nanti.”
Aku hanya diam. Saat membicarakannya dengan Biru dulu, aku kurang menyetujui ide itu.
“Bengkel mobil ini bisnisku sendiri sejak lima tahun lalu, sebelumnya aku kerja di kantor Papa.”
“Lima tahun lalu berarti umur kamu berapa?” tanyaku asal.
Alang terkekeh. “Kenapa nggak tanya aja berapa umurku sekarang?”