Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #17

Bab 16 Seharusnya Aku Sudah Bisa Merasa Aman

 Aku baru turun dari ojol saat Mak Yani yang berada di teras rumahnya memanggilku, melambaikan tangannya agar aku mendekat. Setelah membayar ongkos ojol, aku menghampiri beliau.

“Ada apa, Mak?” tanyaku melempar senyum.

“Sini, sini duduk dulu,” katanya menunjuk kursi di sampingnya. “Mamak mau minta tolong.”

Aku duduk di kursi yang ditunjuk Mak Yani, masih sambil tersenyum. “Minta tolong apa, Mak?”

 “Begini lho, Lil, udah dua minggu hape Mamak dipinjam ibumu, kamu bisa tolong mintakan?”

Senyumku seketika menghilang. “Ibu pinjam hape Mamak sampai dua minggu?” ulangku.

Mak Yani mengangguk.

Refleks tanganku menggenggam ujung kardigan dan meremas-remasnya. Perutku mendadak terasa melilit, wajahku sendiri mungkin sudah merah padam karena aku merasakan panasnya yang menjalar ke seluruh muka.

“Maap ya, Lil, maaap banget. Mamak sih sebenarnya nggak papa hape Mamak dipinjam ibumu, tapi Rieke marah-marah karena susah kalau mau hubungi Mamak.” Mak Yani terlihat tidak enak. Rieke anak sulung Mak Yani yang berada di Sumatra.

Aku cepat-cepat menggeleng. “Aku yang seharusnya minta maaf, Mak,” kataku malu. “Maaf ya, Mak, aku benar-benar nggak tahu Ibu pinjam hape Mamak sampai dibawa pulang.”

Lalu Mak Yani bercerita, kalau selama ini Ibu sering sekali meminjam ponsel beliau. Awalnya cuma di rumah Mak Yani saja, lama-lama dibawa pulang dan baru dikembalikan dua tiga hari kemudian. Namun hari ini, sudah dua minggu ponsel Mak Yani belum juga dikembalikan. Mbak Rieke sampai harus menelepon tetangga yang lain karena beberapa kali menelepon nomor Mak Yani, tapi tidak pernah diangkat. Kemudian Mak Yani juga cerita, saat Ibu pinjam ponselnya masih di rumah Mak Yani, Ibu sering memakai kamar Mak Yani buat bertelepon dengan laki-laki sampai berjam-jam.

Bahuku seakan mengempis mendengar cerita itu, pandanganku jatuh ke ujung kaki, sementara kedua tanganku semakin kencang meremas-remas bawah kardigan. Ada banyak permintaan maaf yang ingin kuucapkan, tapi tenggorokanku terasa tercekat, bibirku terkatup rapat. Rasa malu yang tajam menumpulkan kemampuanku bereaksi. Aku tidak pernah tahu hal seperti ini bisa terjadi lagi. Kupikir, setelah kejadian uang tabungan dan motorku itu, Ibu sudah kapok. Namun, nyatanya?

Susah payah, aku menarik napas panjang, dan mengembuskannya perlahan.

“Mak Yani tahu siapa laki-laki itu?” tanyaku parau ketika akhirnya mampu bersuara.

Mak Yani menggeleng, lalu berkata pelan, “Mamak dengar dari orang-orang, motormu dibawa kabur —ehm—kenalan ibumu, apa mungkin orang itu?”

Aku diam. Selama ini para tetangga hanya tahu motorku hilang, aku tidak pernah menceritakan detailnya kecuali pada polisi. Namun, aku tidak akan merasa heran jika pada akhirnya kabar yang sebenarnya tersebar.

“Kayaknya bukan, Mak,” gumamku.

Pasti orang baru lagi. Laki-laki yang berhasil menguras tabungan sebesar hampir 60 juta dan membawa kabur motor tidak akan mungkin berani menghubungi Ibu lagi.

“Mak,” kataku beringsut menghadap Mak Yani, memberanikan diri menatap wanita tua itu, “aku beneran minta maaf ya, Mak. Aku janji hape Mak Yani dikembalikan sore ini juga.”

Mak Yani tersenyum penuh pengertian.

Kemudian aku berdiri dan berpamitan. Keluar dari halaman Mak Yani, aku tidak masuk ke pekarangan rumahku sendiri melainkan berjalan ke ujung gang sambil memesan ojol. Aku tahu sekali, Ibu tidak akan mau mengembalikan ponsel Mak Yani kalau dia belum memegang ponselnya sendiri. Jadi aku harus mengambil benda itu terlebih dahulu di loker tempat kerjaku.

Sebenarnya, setelah mengetahui Ibu menjalin hubungan lagi dengan pria dari internet, hal terakhir yang ingin kulakukan adalah memberi Ibu akses ke ponsel. Namun, kenekatan Ibu memakai hape Mak Yani, bahkan sampai membawanya pulang membuatku tidak mempunyai pilihan lain.

 ***

Kuletakkan benda pipih berwarna silver itu ke atas meja, tepat di depan Ibu yang sedang menonton televisi.

Lihat selengkapnya