Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #18

Bab 17 Bukan Hanya Aku yang Merasa Lelah

Saat keluar dari Chic & Ken setelah jam kerjaku usai keesokan harinya, aku melihat Alang sudah menungguku di tempat parkir. Dia bersandar pada pintu mobilnya, mengenakan kaos hitam yang dipadukan dengan celana chino krem. Bagian depan kaosnya dipenuhi motif abstrak berwarna putih. Namun, begitu jarak kami kian dekat, aku sadar itu bukanlah motif abstrak.

Langkahku melambat ....

Aku mengenali motif tumpukan hati itu.

Doodle-ku!

Bisa kurasakan wajahku memucat. Apalagi ketika melihat huruf-huruf yang membentuk nama ALANG di sela-sela gambar kini bisa dibaca dengan mudah.

Spontan kupercepat langkah hingga dalam hitungan beberapa detik aku sudah berada di depannya.

“Dengar,” kataku terengah. “Itu nggak seperti yang kamu pikirkan.”

Alang mengangkat sebelah alisnya jenaka. Pipiku memanas. Rasanya ingin sekali kurenggut kaos itu dari tubuhnya.

“Kemarin itu, aku terbawa perasaan,” ujarku berusaha menjelaskan, mengabaikan jantungku yang berdetak tak beraturan.

“Terbawa perasaan?”

Aku menelan ludah. “Itu,” ucapku menunjuk kaosnya. “Itu cuma gambar hati. Aku lagi gembira waktu menggambarnya, nggak ada hubungannya sama cinta.” Nada suaraku agak melengking di bagian kata “cinta”.

Sekarang, kedua alis pria itu yang terangkat.

“Soal namamu yang kuselipkan di situ karena kamu sudah mengajakku jalan-jalan. Cuma itu. Jadi, tolong jangan salah paham,” cerocosku lagi.

Kuberanikan diri menatap Alang, memastikan dia percaya kata-kata yang kuucapkan. Dia harus percaya. Aku tidak akan punya muka lagi kalau sampai dia mengira aku jatuh cinta padanya. Dia mungkin akan menertawakanku bersama teman-temannya.

Tuhaan ..., tolong telan aku sekarang juga.

Pikiranku berkecamuk, tetapi aku tetap bertahan menatap mata Alang.

“Ah, jadi aku salah,” gumam Alang.

Cepat-cepat aku mengangguk.

Dia terdiam sebentar. Kemudian tersenyum tipis.

“Padahal kukira cintaku nggak bertepuk sebelah tangan.”

“Ngg—” Apa tadi dia bilang?

Aku diam. Terpaku. Tatapan kami bertaut.

“Lucu, ya? Aku jatuh cinta sama kamu bahkan sebelum bertemu kamu. Ini gara-gara Biru.” Alang tersenyum lembut. Tangannya terangkat, lalu ujung jarinya menyentuh pipiku yang terasa panas. “Nggak masalah kalau kamu tidak jatuh cinta sama aku ...,” dia diam sebentar, lalu melanjutkan, “Belum. Boleh nggak aku menganggapnya ‘belum’ bukan ‘tidak’?”

Jantungku berdentum-dentum. Lututku terasa goyah, aku harus berusaha keras agar tetap bisa berdiri tegak.

Tak tahan dengan rasa terbakar yang dihasilkan sentuhan ujung jari Alang, aku menunduk. Rupanya tanpa sadar kedua tanganku sudah meremas-remas ujung kardigan, aku langsung menghentikannya.

Alang sudah menurunkan tangannya.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Pengakuan Alang mengejutkanku, tapi ... juga menghadirkan perasaan aneh yang bergumul dalam perutku.

 “Oh, ya. Aku punya kabar gembira buat kamu,” kata Alang tiba-tiba.

Aku mendongak, kembali menatap Alang karena penasaran.

Lihat selengkapnya