Seakan-akan seseorang telah menebas semak belukar yang selama ini menghalangi jalanku, bisnis baruku—di luar dugaan—berjalan mulus. Dalam lima bulan sejak menandatangani kontrak dengan CV Abadi Jaya, banyak hal yang berubah dalam hidupku. Kini aku sudah memiliki akun Instagram untuk mempromosikan karyaku. Pengikutku lebih dari sepuluh ribu, tumbuh secara organik. Kata Biru, sekarang aku famous di kalangan tertentu. Sebenarnya mungkin karyaku yang lebih mereka kenal, karena aku sengaja tidak membuka identitas asliku di media sosial. Dari komen-komenan mereka, kebanyakan followers-ku mengira aku laki-laki.
Semuanya berawal dari penjualan kaos yang memakai gambarku meledak. Ada suatu kebiasaan yang kulakukan saat menggambar doodle, aku menyelipkan cerita di dalamnya, kadang berupa satir, atau kritikan sosial. Lebih sering lelucon receh yang sering kudengar dari cerita teman-temanku. Dan ternyata, ada orang-orang yang menangkap lelucon dan pesan tersembunyi dalam doodle-doodle itu. Salah satunya menjadi viral, kemudian penjualan pun ikut meledak.
Saat ini aku hanya menjual gambarku pada EJay Tees, lini produk CV Abadi Jaya, meski akhir-akhir ini banyak DM yang meminta kerja sama denganku. Bagaimanapun, merekalah yang membukakan jalan untukku. Dari Alang aku tahu CV Abadi Jaya dulunya hanya perusahaan konveksi kaos biasa milik orang tua Pak Zerano, teman Alang.
“Setelah CV Abadi Jaya dipegang Ano, dia mengubah image perusahaan. Sekarang mereka fokus memproduksi kaos premium dengan merek sendiri, EJay Tees. Sudah punya beberapa distro juga,” jelas Alang dulu, saat pertama kali memberitahuku kabar tentang temannya yang berminat membeli gambar-gambar doodle-ku.
Hari ketika dia mengutarakan perasaannya padaku.
Kadang-kadang aku merasa peristiwa tersebut baru terjadi kemarin, padahal sudah lewat berbulan-bulan. Aku masih mengingat rasa hangat yang menjalari pipiku, juga debar menyenangkan yang memenuhi rongga dadaku. Aku masih menyimpan perasaan itu, menelaahnya setiap malam, bertanya-tanya apa aku siap dengan sebuah hubungan?
Aku masih terlalu takut untuk mencoba. Terutama ketika masalah keluarga yang membelit kami menjadi semakin rumit. Biru tidak lagi berbicara dengan Ibu, dan Ibu menyalahkanku karenanya. Dia pikir aku sudah menghasut Biru, membuat adikku itu membencinya. Setiap hari Ibu mengomel karena sekarang Biru jarang pulang, lebih suka tinggal di bengkel Devon. Kalau aku menanggapi omelan Ibu satu kalimat saja, Ibu akan semakin menggila. Bukan hanya berteriak-teriak merasa paling disakiti, tapi juga melempar barang-barang. Karena itu aku lebih sering memilih diam. Itu pun kadang masih salah juga karena Ibu merasa tidak dianggap hingga tetap saja mengamuk.
Aku masih mempertahankan pekerjaanku di Chic & Ken. Meski penghasilanku dari menjual gambar cukup lumayan, tidak kubiarkan diriku terlena. Apa pun yang terjadi di internet bisa berubah dalam hitungan hari. Sesuatu yang hari ini dipuji, besok bisa dilupakan. Yang hari ini membuat seseorang terkenal, besok bisa menjadi alasan orang lain menghujatnya. Karena media sosial hanyalah gelembung sabun. Indah, berkilau, tetapi bisa pecah kapan saja.
***
Masih kurang lima belas menit sampai jam kerjaku mulai ketika aku masuk ruang ganti. Bobby dan Lea yang sedang mengobrol langsung menoleh ke arahku. Sementara Cindy mendongak dari layar ponselnya untuk melihatku. Aku menangkap ada yang janggal dengan ekspresi mereka, bahkan Cindy yang biasanya cerewet, langsung memalingkan muka begitu mata kami bertemu.
“Hai,” sapaku hati-hati. Apa mungkin mereka sedang membicarakanku?
“Lil.” Lea membalas, tersenyum canggung. “Gimana kabar?” ucapnya yang aku tahu hanya basa-basi.
“Gini gini aja lah,” sahutku berusaha santai, meletakkan ranselku ke kursi dan mengeluarkan seragamku.
“Ibumu gimana kabarnya?”
Gerakanku terhenti, menoleh pada Lea dengan heran. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari pertanyaan Lea. Semua teman kerjaku mengenal Ibu. Beberapa kali mereka pernah berkunjung ke rumah, bahkan setahuku mereka berteman di Facebook. Hanya saja, entah kenapa kali ini aku merasa ada yang tidak beres.
“Kamu belum tahu ya?” celetuk Bobby membuatku berpaling ke arahnya.
“Tahu apa?”
Ketiga temanku saling melempar pandang, lalu secara bersaman mata Bobby dan Lea tertuju pada ponsel yang dipegang Cindy.