Kardigan Lila

Andros Luvena
Chapter #20

Bab 19 Kecarut-Marutan

“Nggak mau gue antar masuk?” tanya Lea saat aku menyerahkan helm padanya.

“Nggak usah, Le, makasih ya.”

“Oke. Gue langsung ya. Kalau ada yang pengen dibicarain, lu bisa telepon gue, atau Cindy, atau Mbak Nia.” Dia diam sebentar kemudian melanjutkan, “Bobby juga bisa jadi pendengar yang baik, kadang-kadang.”

Aku tersenyum tipis.

Lea menyalakan motornya dan pergi. Aku menunggu sampai dia berbelok di ujung gang, kemudian masuk ke halaman. Sampai teras, aku hanya berdiri mematung.

Tadi, begitu aku sudah agak tenang, Mbak Ines yang datang belakangan menyuruhku pulang dan meminta Lea mengantarku.

“Aku nggak dipecat kan, Mbak?” tanyaku khawatir, suaraku bergetar.

“Kamu bisa kerja lagi kapan pun kamu siap, Lil, tapi sekarang kamu harus menenangkan diri dulu.”

Aku tidak yakin bisa menenangkan diri di rumah.

Kubuka pintu depan yang tidak terkunci. Sepi. Tak ada suara apa pun dari dalam. Biasanya Ibu menyalakan televisi entah dia tonton atau tidak.

Kakiku baru hendak melangkah masuk ketika suara motor Biru terdengar dari halaman. Aku menoleh. Dia sudah berhenti dan sedang melepas helm. Begitu melihat wajahnya, saat itu juga aku tahu Biru sudah melihat video itu.

“Mbak Lila nggak kerja?” tanyanya sambil menghampiri dengan langkahnya yang panjang.

Aku diam.

Biru sampai di depanku.

“Mbak Lila udah tahu ya?” bisiknya parau.

Aku memalingkan wajah. Biru tidak membutuhkan jawaban.

“Ibu mungkin di kamar,” gumamku memasuki rumah. Biru mengikutiku.

Pintu kamar Ibu tertutup. Aku mengetuknya, tapi tidak ada jawaban.

“Coba buka, Mbak,” kata Biru.

Aku menghela napas, lalu menekan hendel dan mendorong pintu perlahan. Tidak ada apa-apa di baliknya. Baru setelah kubuka lebih lebar, kami melihat Ibu duduk di sudut ranjang, menatap kosong ke depan.

Ponselnya tergeletak di kasur tak jauh darinya, layarnya masih menyala.

Ibu seperti baru menyadari kehadiran kami, kepalanya menoleh.

“Mau apa?” tanyanya defensif.

Mataku tertuju pada layar ponselnya. Video yang sedang menjadi masalah itu terputar tanpa suara.

Aku bergerak cepat, mendekat, menyambar benda itu, lalu mematikannya.

“Ibu ngapain sih terus-terusan bikin masalah!” seru Biru tiba-tiba.

Aku tersentak kaget. Refleks menoleh ke arah adikku. Seumur hidup, belum pernah kulihat Biru seperti ini. Waktu kecil, bisa dibilang dia sangat memuja Ibu. Sampai besar pun, dialah yang paling dekat dengan Ibu. Namun sekarang, yang kulihat di matanya hanya kemarahan dan

Lihat selengkapnya