KARELUNA

Jenitha
Chapter #16

Maaf

Semenjak sabtu lalu Karel jadi beberapa kali bertukar pesan dengan Nuga. Tidak ada yang spesial dari percakapan keduanya hanya berbincang seputar warung Mbah Agung, kegiatan sekolah, dan saran cara belajar yang efektif. Meski begitu, Karel tetap mengembuskan napas berat. Sebenarnya ada apa sih dengan hidupnya akhir-akhir ini? Masalah polaroid, masalah keluarganya, masalahnya dengan Joya, Alaska, kecelakaan sabtu kemarin dan sekarang ada masalah baru lagi. Buku silabus kebanggaan dan buku rencana konyolnya hilang! Kalau buku rencana itu jelas tidak masalah tapi Silabus Geografi? Karel sangat benci situasi ini. Buku silabus memang banyak bertebaran dimana-mana tapi yang ada tulisan tangan dan hasil kerja keras Karel belajar hanya ada satu dan itu hilang. Beberapa hari ini Karel sedikit kesusahan karena ia tidak bisa membaca ulang pelajaran dan dia harus mengulang semuanya dari awal.

"Ini genre hidup gue masalah kali ya?" ucap Karel pada diri sendiri.

Saat ini Karel tengah berada dikamarnya dan makan malam hari ini adalah suara keributan ayah dan ibunya. Karel bahkan sudah menaikan suara penyuara jemalanya namun tetap saja tak mempan. Hampir setiap hari suasana di keluarga ini seperti sekarang, dimana tidak ada ketenangan dirumah itu. Suara nyaring terus menusuk ke seluruh penjuru ruangan hingga ke telinga Karel. Itulah hidup. Kalau ada tenang berarti ada pula yang namanya badai.

Karel membuka jendela kamarnya berniat menikmati hembusan angin malam. Namun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Alaska yang membawa kembang api berukuran besar. Alaska melambai ke arah jendela dengan senyuman khasnya.

Alaska mendekatkan ponselnya ke telinga beriringan dengan suara nada dering telepon yang keluar dari ponsel Karel.

Karel mengusap layar ponselnya. Ketika telepon telah tersambung, suara Alaska langsung keluar dari sana.

"Lo hitung satu sampai tiga,"

Karel tersenyum tipis beberapa saat sebelum akhirnya mulai menghitung. "Satu ... dua ... tiga ...."

Tepat dihitungan ketiga, kembang api keluar dari tempatnya lalu terbang ke langit membentuk hamparan kembang warna warni. Sementara itu Alaska terus menyalakan kembang api lainnya setiap kembang api itu habis.

"Gue ngelakuin ini bukan buat bikin lo bisa maafin gue, Kar. Gue tahu kesalahan gue sangat fatal. Tapi, izinin gue supaya bisa bikin lo tersenyum barang sedetik."

Karel tertegun ketika mendengar suara lembut itu berbicara lagi. Karel menatap lurus ke depan tempat Alaska berdiri masih setia dengan senyuman diwajahnya. Karel tidak akan bohong, kalau hatinya menghangat ketika mendengar penuturan Alaska.

"Gue mau tahu apa alasan lo nyembunyiin itu semua?" tanya Karel langsung ke intinya.

Mendengar itu, senyum Alaska kian memudar. Ia menatap lurus dengan sorot mata yang tak bisa Karel artikan. "Gue nggak yakin kalau ini bisa diomongin lewat telepon, gue ...," ucapnya ragu.

"Nggak apa-apa karena gue yang minta," ujar Karel serius.

Beberapa detik terlewat tak ada suara dari telepon dan kembang api terakhir sudah menghilang menyisakan kepulan asap tipis diatas langit.

"Lo inget nggak waktu mama lo, Tante Kiana harus dirawat di rumah sakit karena sakit kanker otak stadium akhir," ujar Alaska mulai menjelaskan.

Karel membiarkan sambungan telepon dalam keheningan selama beberapa saat, membiarkan Alaska untuk melanjutkan kalimatnya. Bersamaan dengan itu, kepingan-kepingan ingatan di kepala membawa Karel kembali teringat dengan kejadian beberapa tahun silam.

Lihat selengkapnya