Trio berjalan perlahan menuju dispenser di sudut pantry, sekadar ingin meneguk air dingin setelah rapat panjang. Tangannya meraih gelas, namun matanya tiba-tiba berhenti.
Di lorong kantor, Aline tampak mengantar seorang gadis baru menuju ruang kerja divisi mereka. Gadis itu melangkah tenang, kulitnya putih bersih, rambut kemerahan tergerai lembut di bahu. Senyumnya tipis, seolah membawa cahaya ke dalam ruangan yang biasanya dingin.
Tatapan Trio sempat terhenti beberapa detik. Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa segera mengalihkan pandangan. Seolah waktu melambat, dan hanya wajah gadis itu yang tertinggal dalam ingatannya.
“Siapa dia…? Mengapa rasanya seperti pernah kutemui, meski jelas aku belum mengenalnya?”
Aline membuka pintu ruang kerja, memperkenalkan gadis itu pada tim. Trio masih berdiri di pantry, gelas di tangan, namun pikirannya sudah tertambat pada satu nama yang baru saja bergema di telinganya: Iloona.
Trio meneguk air dingin, tapi rasa sejuk itu tak mampu menenangkan kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Matanya masih terbayang wajah Iloona, gadis baru yang bahkan belum sempat ia sapa. Ada sesuatu yang mengusik, seolah hatinya disentuh oleh tangan tak kasat mata.
“Kenapa aku merasa… ada sesuatu yang familiar? Padahal jelas aku belum pernah bertemu dengannya. Senyumnya… seperti cahaya yang menembus dinding dingin dalam diriku.”
Trio menghela napas panjang. Ia terbiasa menekan emosi, membungkus diri dengan profesionalitas. Namun kali ini, ada getaran yang tak bisa ia abaikan. Ego-nya berbisik untuk tetap tenang, menjaga jarak, tidak menunjukkan kelemahan. Tapi hatinya berteriak, ingin tahu lebih banyak tentang Iloona.
Trio baru saja menaruh gelas kosong di meja pantry ketika ponselnya bergetar. Nama Sharen muncul di layar. Ia menatap sebentar, ragu, lalu mengangkat.
“Trio… bisa kita ketemu sore ini setelah kamu kerja?” suara Sharen terdengar lembut, tapi ada nada mendesak.
Trio terdiam sejenak. Bayangan wajah Iloona masih menempel di benaknya, membuat hatinya bergetar aneh. Namun kenyataan menampar: ia masih punya Sharen.
“Okei,” jawabnya singkat.
Sharen tersenyum di seberang telepon, meski Trio tak bisa melihat. “Aku tunggu di kafe biasa, ya.”
Telepon berakhir. Trio menatap layar ponselnya lama, seolah mencari jawaban yang tak pernah muncul.
Sore itu, kafe yang biasa mereka datangi sudah ramai. Aroma kopi bercampur dengan suara obrolan ringan. Sharen duduk di sudut, menunggu dengan senyum yang berusaha tampak tenang.
Trio datang beberapa menit kemudian, langkahnya mantap tapi wajahnya menyimpan keraguan. Ia duduk di hadapan Sharen, mencoba menyingkirkan bayangan Iloona yang masih menempel di benaknya.
Sharen menatap Trio dengan senyum yang berusaha tampak manis, meski matanya menyimpan sedikit keraguan. Ia menggenggam cangkir kopi, lalu berkata pelan:
“Trio… minggu depan kan ulang tahunku. Aku pengin kamu beliin aku tas yang baru keluar itu. Anggap aja kado spesial dari kamu.”
Trio menatapnya sekilas, lalu mengangguk tanpa banyak kata. “Iya, nanti aku belikan.”
Jawabannya terdengar datar, seolah otomatis. Sharen tersenyum lega, tapi hatinya masih merasakan jarak.
Di sisi lain, pikiran Trio kacau. Nama Iloona terus bergema, wajahnya muncul di sela obrolan Sharen. Ia merasa bersalah, tapi tak mampu mengusir bayangan itu.
Suasana kantor masih segar, aroma kopi baru terseduh bercampur dengan suara mesin printer. Trio berjalan menuju ruangannya, wajahnya tampak lelah meski pagi baru dimulai. Bayangan Iloona masih menghantui, sementara permintaan Sharen tentang tas Branded semalam menambah beban pikirannya.
Di lorong, Ferly muncul dengan senyum khasnya, membawa segelas kopi.
“Pagi, Bro. Kok muka lo kayak habis begadang semalaman?”
Trio tersenyum tipis, mencoba menutupi kegelisahan. “Biasa, rapat panjang. Terus ada urusan pribadi juga.”
Ferly menepuk bahunya ringan. “Urusan pribadi? Wah, kedengarannya serius. Jangan bilang pacar lo mulai ribet lagi?”
Trio terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Sharen minta sesuatu… aku iyain aja. Tapi entah kenapa, pikiranku nggak bisa fokus.”
Ferly menatapnya tajam, lalu tertawa kecil. “Lo bukan tipe cowok yang gampang goyah. Tapi kalau sampai pikiran lo kacau, berarti ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar permintaan pacar. Apa minta dinikahin dia? Gas aja bro”
Trio menunduk, matanya kosong. Dalam hati, ia tahu Ferly benar. Ada wajah lain yang terus muncul, senyum tipis Iloona yang tak bisa ia lupakan. Ferly meneguk kopinya santai, lalu menatap Trio dengan senyum penuh arti.
“Eh, denger-denger ada anak baru di divisi lo. Namanya… Iloona, ya? Katanya cantik banget. Yang mana sih?”
Trio tersentak kecil, mencoba menahan ekspresi. “Dia bukan di divisi gue, tapi di divisi Aline”.
Namun nada suaranya terdengar kaku, seolah menyembunyikan sesuatu.
Ferly tertawa pelan, menepuk bahu Trio.