Kantin kantor siang itu penuh sesak. Hampir semua meja sudah terisi, hanya tersisa meja di sudut tempat Trio dan Ferly duduk bersama. Puti dan Iloona yang baru masuk membawa nampan makanan saling berpandangan, bingung mencari tempat.
Ferly segera melambaikan tangan dengan gaya santainya. “Eh, sini aja gabung sama kita. Masih ada kursi kosong.”
Puti tersenyum lebar, lalu menepuk lengan Iloona.“Iloona, ayo. Kak Ferly itu asik banget, nggak usah ragu. Lagian daripada kita makan berdiri.”
Iloona sempat ragu, matanya melirik ke arah Trio yang duduk diam dengan wajah dingin. Ada sedikit ketegangan dalam hatinya: duduk satu meja dengan para leader bukan hal mudah. Namun bujukan Puti membuatnya akhirnya melangkah mendekat.
Iloona menarik kursi perlahan, duduk di sebelah Trio. Ia menunduk hormat, tanpa kata, hanya sekadar memberi isyarat sopan. Jemarinya meremas sendok di atas nampan, berusaha menahan gugup.
Trio, yang biasanya dingin, sempat melirik sekilas. Tatapan singkat itu membuat jantung Iloona berdebar, tapi ia segera menunduk lagi, memilih diam.
Ferly, dengan gaya santainya, langsung mencairkan suasana. “Wah, akhirnya meja ini rame juga. Biasanya cuma gue sama Trio. Sekarang ada Puti dan Iloona, makin seru.”
Puti tertawa kecil, lalu menoleh ke Iloona. “Tenang aja, Ila. Mereka nggak seseram kelihatannya. Kak Ferly itu asik, dan Mas Trio… ya, dia pendiam, tapi sebenarnya baik.”
Trio meneguk minumannya, lalu pelan-pelan membuka suara.
“Selamat datang di meja ini.”
“Iya Iloona, nggak semua leader di sini kyak leader kamu yang super jutek itu kok, masih ada saya, ada Trio juga yang nggak sedarah tinggi Aline. Kamu mesti takut ya berhadapan sama Aline, emang unik orangnya,” ungkap Ferly.
Kalimat sederhana Trio, cukup untuk membuat Iloona menoleh dengan senyum tipis. Ada benang halus yang mulai tersambung, bukan lagi sekadar tatapan, melainkan interaksi pertama yang terasa dekat.
Suasana meja mulai hangat. Ferly bercanda, Puti tertawa, dan Iloona perlahan merasa lebih nyaman duduk di samping Trio. Namun tiba-tiba ponsel Trio bergetar di atas meja. Nama Sharen muncul di layar.
Trio menatap sebentar, wajahnya berubah tegang. Ia segera bangkit dari kursinya.
“Maaf, aku duluan ya.”
Tanpa banyak kata, ia meninggalkan meja, meninggalkan Ferly, Puti, dan Iloona yang saling berpandangan.
Di luar kantin, Trio mengangkat telepon. Suara Sharen terdengar tajam, penuh emosi.
“Kamu lupa, ya? Hari ini ulang tahunku! Aku tunggu perhatian dari kamu, tapi kamu malah sibuk di kantor!”
Trio terdiam, hatinya berdegup kencang. Ia menutup mata sejenak, merasa bersalah.
“Sharen… maaf. Aku benar-benar lupa. Aku akan segera menebusnya, oke sore ini kita ke mall, kamu boleh beli apa pun yang kamu mau.”
Namun Sharen tidak mereda.
“Lupa? Kamu selalu bilang sibuk. Aku butuh kamu ada, bukan cuma janji. Kalau begini terus, apa artinya hubungan kita?”
Trio menggenggam ponselnya erat, wajahnya muram. Ia tahu kata-kata Sharen menusuk, dan rasa bersalah semakin menekan.
Sore itu, Trio menepati janjinya. Ia menjemput Sharen dan membawanya ke mall terbesar di kota itu. Lampu-lampu terang, musik pop yang diputar di setiap toko, dan keramaian pengunjung seolah kontras dengan wajah muram Sharen.
Sharen berjalan cepat, hampir tanpa menoleh ke arah Trio.
Suaranya dingin “Kamu baru ingat ulang tahunku setelah aku marah. Apa artinya semua ini kalau aku harus mengingatkanmu dulu?”
Trio menunduk, mencoba menahan rasa bersalah. “Maaf, Sharen. Aku benar-benar sibuk. Tapi aku ingin menebusnya. Pilih apa pun yang kamu mau, anggap ini hadiah ulang tahun dariku.”
Sharen berhenti di depan butik mewah, menatap deretan tas dan gaun dengan mata berbinar, tapi wajahnya tetap dingin. “Hadiah itu bukan soal barang, Trio. Aku butuh kamu ada. Aku butuh perhatianmu, bukan sekadar belanja.”
Trio terdiam, hatinya semakin berat. Ia tahu kata-kata Sharen benar, tapi pikirannya masih kacau oleh bayangan Iloona.
Sharen berdiri di depan etalase butik mewah, matanya langsung tertuju pada sebuah tas eksklusif dengan harga selangit. Ia menunjuknya tanpa ragu.
“Aku mau tas itu. Anggap ini hadiah ulang tahunku.”
Trio menatap tas tersebut, lalu mengangguk tanpa banyak kata. Tidak ada keberatan, tidak ada perhitungan. Ia mengeluarkan kartu kredit dengan wajah datar, seolah proses itu hanyalah rutinitas.
Namun di dalam hatinya, pikirannya melayang jauh. Bayangan senyum rapuh Iloona siang tadi, saat duduk di sampingnya di kantin, terus menghantui. Momen sederhana itu terasa lebih berharga daripada transaksi mahal yang sedang ia lakukan sekarang.
Sharen tersenyum puas, memeluk tas barunya. Tapi senyum itu tidak mampu menghapus jarak emosional yang semakin jelas. Trio berdiri di sampingnya, tubuhnya ada di mall, namun hatinya tertinggal di meja kantin bersama Iloona.
Malam itu, setelah mengantar Sharen pulang dengan tas mahal di tangannya, Trio duduk di mobil sendirian. Lampu kota berkelebat di kaca jendela, tapi pikirannya tidak berada di sana.