Riuh rendah suara mahasiswi memenuhi Auditorium Universitas Pendidikan Indonesia. Udara AC yang dingin tak mampu mengusir kegerahan di hati Shafira. Gadis itu menyesuaikan posisi duduknya, mencoba mencari kenyamanan di atas kursi lipat yang keras. Warna hijau muda hijabnya seolah menjanjikan ketenangan musim semi, namun di baliknya, pikiran Shafira justru riuh oleh badai tanya yang tak kunjung reda. Hijau itu tampak kontras, mencolok di tengah "lautan" jilbab aneka warna yang memenuhi ruangan siang itu—seperti sebuah titik yang berusaha tenang di tengah gelombang.
Di atas panggung, seorang pembedah buku sedang membacakan nukilan dari karya Asri Widiarti, Tak Kenal Maka Ta’aruf. Suaranya lantang, bergema melalui pengeras suara, menghujam langsung ke pusat kecemasan Shafira.
"Pernikahan bukanlah uji coba yang kapan pun bisa dibatalkan bila terjadi ketidakcocokan," suara sang pemateri terdengar tegas. "Sebab itu, mengenal calon pasangan hidup sebelum akad adalah fardhu bagi ketenangan jiwa. Namun, Islam punya cara yang elegan. Bukan dengan pacaran, melainkan taaruf."
Shafira menunduk. Jemarinya memainkan ujung buku catatan yang masih kosong. Kalimat itu terasa seperti sembilu. Bagi sebagian besar temannya, taaruf adalah harapan, sebuah jalan suci. Namun baginya, kata itu adalah momok yang belakangan ini menghantuinya seperti mimpi buruk di siang bolong.
Slide di layar berubah. Lima poin alasan taaruf muncul satu per satu. Pemateri di depan mulai memaparkan poin-poin tersebut. Shafira mendengarkan dengan saksama, meski hatinya berdesir perih.
Pertama, agar tidak membeli kucing dalam karung. Shafira meremas pulpennya hingga buku jarinya memutih. Bagaimana jika yang ada di dalam karung itu justru diriku sendiri? Ia tahu benar bahwa melalui taaruf, segalanya harus dibuka: agama, akhlak, hingga latar belakang keluarga. Sekelebat bayangan buram dari beberapa tahun lalu melintas—suara piring pecah, pintu dibanting keras, dan tetangga yang berdiri di depan rumah menonton pertengkaran orang tuanya seperti tontonan. Keharusan untuk jujur itulah yang mencekik lehernya. Apakah ia cukup layak untuk bersanding dengan seseorang yang memiliki visi-misi seindah pelangi?
Kedua, taaruf adalah sarana melihat kecocokan. "Dunia akan menjadi lebih indah," lanjut pemateri, "bila kita mengarunginya bersama belahan jiwa yang satu visi dan misi. Sinergi dalam dakwah akan berlipat ganda kekuatannya. Itulah surga dunia. Sakinah, mawaddah, warahmah."
Shafira memejamkan mata sejenak. Ia membayangkan sebuah rumah yang penuh cahaya, tempat diskusi agama menjadi bumbu sehari-hari. Namun, bayangan kegagalan selalu lebih cepat datang daripada harapan. Ia takut pada poin ketiga yang baru disebutkan: Mempersempit peluang menyesal setelah menikah.