Karena Kita Tak Butuh Dua Kaki ke Surga

Vina Marlina
Chapter #2

Perenungan Shafira

Pagi itu terasa kelabu, padahal langit di luar sana sedang berpesta menyambut anugerah mentari. Cahayanya hangat dan menyala-nyala, seolah bertekad mengusir sisa-sisa hawa dingin yang menggigit di selatan Bandung.

Shafira menyandarkan kepala di salah satu bingkai jendela. Gadis berambut sebahu itu enggan memulai rutinitas bangun tidur. Ia menatap kosong ke luar, namun perlahan pemandangan hijau Ciwidey memudar, berganti dengan kepingan memori usang tahun 1995 yang mendadak menyeruak dari sudut gelap ingatannya.

Kala itu, ia masih sangat kecil, menyusup di balik pintu dengan jantung bertalu-talu. Di ruang tengah, ia melihat papa—seorang PNS di Kotamadya Bandung yang bertugas menagih pajak—baru saja pulang dengan wajah letih. Papa kembali tanpa "uang tips" tambahan yang biasanya dituntut mama. Kurang dari target lima puluh ribu rupiah, katanya. Di tahun itu, saat harga emas masih di kisaran dua puluh lima ribu per gram, uang lima puluh ribu adalah jumlah sangat besar, apalagi papa hanya seorang abdi negara lulusan SMEA.

"Cuma segini?!" lengkingan suara mama memecah keheningan rumah.

Shafira kecil gemetar melihat mama kalap. Sebuah pukulan mendarat di tubuh papa yang hanya terdiam. Puncaknya, dengan mata yang merah karena amarah, mama menyambar semangkuk mi yang masih mengepul, lalu menyiramkannya tepat ke atas kepala papa. Helai-helai mi dan kuahnya yang panas luruh di seragam cokelat papa, namun lelaki itu tetap tak melawan.

Pemandangan paling mengerikan adalah saat mama mengambil Al-Qur'an dari atas lemari. Dengan suara bergetar karena emosi yang tak terkendali, mama memerintahkan papa menduduki kitab suci itu—hanya untuk membuktikan bahwa papa tidak berbohong soal nihilnya uang tips dari para pengusaha pajak hari itu.

"Duduk! Duduk di atasnya kalau kamu memang jujur!"

Shafira menutup mata rapat-rapat. Bayangan papa yang dipermalukan dan kesucian agama yang dicederai demi uang, meninggalkan lubang hitam di hatinya hingga kini. Itulah alasan mengapa hingga hari ini, setiap kali mendengar kata "pernikahan", ada rasa ngeri yang menjalar. Ia merasa "kotor", seolah pengkhianatan terhadap kitab suci itu adalah warisan kutukan yang harus ia tanggung. Bagaimana ia bisa menjadi istri saleha jika memori tentang Tuhan saja selalu berkelindan dengan aroma kuah mi panas dan tangis tertahan papa?

"Ah, ya Allah... apa yang harus aku lakukan?" lirihnya. Keluhan itu meluncur begitu saja, memecah kilas balik yang menyakitkan itu.

Nyaris satu jam ia terpekur, larut dalam labirin perasaannya sendiri, hingga suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan. Dunia nyata mendadak menariknya kembali.

"Fira Sayang, sudah jam delapan, Nak. Kamu belum sarapan. Nenek sudah siapkan nasi goreng kesukaanmu di meja. Ayo keluar, sebelum nasinya dingin."

"Iya, Nek. Sebentar lagi Fira keluar," sahutnya setelah menelan gumpalan sesak di tenggorokan.

Shafira segera bangkit dan merapikan tempat tidur. Sebelum keluar, ia sempat melirik cermin hias di sudut kamar. Seraut wajah tirus dan pucat menyapa balik. Matanya sembab. Ah, rupanya begini penampakan gadis usia tiga puluh tahun... Kegelisahan yang coba ia tekan, kini justru terpantul jelas di sana.

Lihat selengkapnya