Karena Kita Tak Butuh Dua Kaki ke Surga

Vina Marlina
Chapter #3

Dilematika Taaruf

Para mahasiswa nampak wara-wiri di area salah satu universitas ternama di Indonesia itu. Semuanya sibuk dengan tujuan masing-masing. Mencari ruang kelas, berjalan keluar gedung fakultas, beristirahat di bawah pohon, atau menuju kantin dan masjid Baiturrahman.

Baru saja Shafira memarkir motor matic-nya di pelataran parkir, sebuah sapaan nyaring dari arah gerbang membuatnya menoleh.

“Ooooy, Fira!”

Shafira tersenyum lebar. Ia melepas helm putihnya, lalu mengaitkan talinya ke dalam jok motor dengan gerakan cekatan. Namun, saat ia berbalik untuk menghampiri sahabatnya, langkah Shafira mendadak kaku.

Mata Shafira membulat. Ia merasa seperti sedang menatap versi Alina yang "baru", sementara ia sendiri masih betah meringkuk di zona nyaman yang abu-abu. Gamis longgar dan kerudung lebar yang menjuntai itu... itu benar-benar Alina? Biasanya, gaya berbusana sahabatnya itu cukup simpel, setipe dengannya: celana bahan katun atau rok panjang dipadu kaos longgar dan jilbab instan yang menutup dada. Ada rasa asing yang menyelinap di dada Shafira—sebuah jarak tak kasatmata yang memberikan garis batas.

“Wa’alaikumsalam, penganten baru! Sudah mulai eksis lagi nih di kampus,” goda Shafira sambil menyembunyikan keterpanaannya di balik senyum lebar.

Alina terkekeh, lalu mereka berpelukan erat sejenak. Kehangatannya masih sama, meski tekstur kain yang menyentuh kulit Shafira kini terasa jauh lebih tebal dan santun. Alina memang baru saja menyelesaikan "cuti" dua minggunya setelah melangsungkan pernikahan.

“Aku kangen banget sama kalian semua, makanya buru-buru masuk lagi. Takut ketinggalan materi kuliah kita,” tukas Alina.

Shafira menyenggol lengan Alina sambil menaik-turunkan alisnya, “Masa sih? Biasanya pengantin baru itu betah menghilang lama dari peredaran. Dunianya serasa milik berdua, yang lain cuma ngontrak.”

“Uh, dasar kamu, Ra. Kalau nurutin kangen sama suami terus, bisa-bisa kuliah S2-ku ini putus di tengah jalan,” Alina menimpali ringan.

Langkah Shafira terhenti sejenak. Kangen? Alina pada suaminya? Bagaimana mungkin? Rasa penasaran itu membuncah, membuat Shafira langsung menghujani Alina dengan pertanyaan saat mereka berjalan menuju gedung fakultas.

Lihat selengkapnya