Ciwidey, 2005
Belakangan, kabut tebal yang menyelimuti dataran tinggi Ciwidey terasa jauh lebih mencekam bagi Shafira. Namun, yang lebih dingin dari cuaca pegunungan itu adalah sikap Shanita. Kakaknya yang biasanya ceria kini selalu terlihat murung. Wajahnya yang semula bersih dan merona, perlahan berubah kusam. Pipinya yang mulus kini ditumbuhi jerawat batu yang meradang hebat, seolah menjadi manifestasi fisik dari stres yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Shafira menangkap perubahan itu, begitu pula nenek. Berkali-kali nenek mencoba mengorek apa yang terjadi, namun Shanita selalu membangun benteng tinggi. Puncaknya terjadi suatu malam, saat mereka duduk bertiga di ruang makan di tengah kesunyian malam Ciwidey yang menggigit.
“Aku tuh nggak apa-apa, Nek. Normal. Sehat kayak biasanya,” sahut Shanita datar. Tangan kanannya tampak lemas menggenggam sendok. Di atas piringnya, gundukan nasi goreng favoritnya hampir tak tersentuh—porsinya jauh lebih sedikit dari biasanya.
“Tapi muka kamu pucat banget, Ta. Nenek khawatir kamu sakit,” nenek bersikeras. Matanya yang renta menatap cemas pada selera makan cucunya yang merosot tajam. Saking sibuknya membujuk, nenek sampai lupa menyuap nasinya sendiri.
“Kalau Teteh nggak sakit, kenapa akhir-akhir ini beda banget? Fira lihat Teteh jadi suka murung. Hayooo, lagi main rahasia-rahasiaan, ya?” tuduh Shafira sambil lalu, dengan mulut penuh lauk dan nasi goreng.
Tiba-tiba, Shanita bangkit dari kursinya. Kursi kayu itu berderit kasar di atas lantai. Matanya membelalak, bukan lagi sedih, melainkan amarah yang meledak. BRAK! Shanita menggebrak meja makan dengan sisa tenaganya, sukses membuat jantung nenek mencelos.
“Diem kamu! Sok tahu!” teriaknya lantang dengan suara bergetar hebat. “Gak usah ikut campur urusan aku segala! Aku mau makan, sakit, atau mati sekalian juga kalian nggak usah ikut ngurusin! Ini hidup aku, ngerti?!”
Setelah itu Shanita melesat ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan sangat kencang. Meninggalkan Shafira yang ternganga serta nenek yang berkali-kali mengusap dadanya karena kaget.
Semenjak itu Shafira pun merajuk. Ia tidak mau lagi duduk semeja dengan Shanita di ruang makan. Tinggallah nenek yang kelimpungan sendiri membujuk keduanya supaya berdamai.
Hingga suatu sore, peristiwa naas itu terjadi. Shafira baru teringat kalau ia memerlukan kamus Inggris-Indonesia untuk tugas sekolahnya. Tapi masalahnya, kamus itu ada di kamar kakaknya.