Karena Kita Tak Butuh Dua Kaki ke Surga

Vina Marlina
Chapter #5

Pergulatan Batin

Shafira pulang sore itu dengan kekalutan yang semakin menggurita. Hari itu benar-benar kacau; konsentrasi belajarnya di kampus seolah menguap.

Setelah melepaskan atribut kemahasiswaannya—diktat tebal yang dijejali ke dalam tas punggung kulit hitam—Shafira melepas jilbabnya dan beranjak keluar kamar. Ia menghampiri Nenek yang sedang khusyuk menikmati drama Korea Winter Sonata di ruang keluarga.

Dengan helaan napas panjang, Shafira menghempaskan tubuh di sofa empuk kesayangan Nenek yang sudah agak gompal di salah satu sudutnya. Pernah Shafira mengusulkan untuk mengganti sofa itu, atau setidaknya membawanya ke tukang reparasi. Tapi Nenek menolak. Nenek merasa almarhum Kakek, yang telah tiada sebelas tahun silam, tidak akan suka jika perabotan rumah ini diganti. Bagi Nenek, setiap serat kain di sofa ini masih menyimpan aroma kenangan mereka.

Mendadak, nada dering nyaring dari saku rok Shafira memecah suasana. Refleks, tubuhnya tersentak. Gugup bukan main.

Nenek menoleh, menatap Shafira heran. “Teleponnya diangkat dong, Ra. Kasihan, mungkin ada yang penting.”

“I-iya, Nek,” jawab Shafira tergagap. Ia bangkit secepat kilat, menggiring langkahnya kembali ke dalam kamar.

Setelah memastikan pintu terkunci rapat, Shafira menekan tombol hijau dengan tangan yang sedikit bergetar.

“Assalamualaikum, Bu Sari,” kata Shafira, suaranya naik satu oktav karena gugup.

“Iya, maaf, Bu... kemarin sore saya belum pulang dari kampus.” Shafira terpaksa berbohong. “Oh, kalau semalam itu, ponsel saya di-silent, Bu. Jadi nggak keangkat. Maaf sekali.”

Hening sejenak di seberang sana, sebelum Shafira melanjutkan dengan nada ragu. “Kebetulan belum, Bu. Maaf, saya belum sempat memikirkan hal itu, masih ribet sama tugas kuliah.”

“Insya Allah, saya minta waktu tiga hari lagi boleh, Bu?” tanya Shafira harap-harap cemas. “Kasih tahu Nenek? Oh, itu juga belum. Insya Allah kalau semuanya sudah pasti, saya kasih tahu beliau.”

Begitu panggilan berakhir, Shafira menyandarkan punggungnya di pintu. Lega, namun hanya sesaat. Bunyi ketukan pelan di pintu kamarnya kembali memompa adrenalinnya.

“Fira, Nenek boleh masuk?”

“Oh, iya... masuk saja, Nek!” Shafira terburu-buru meloncat ke atas kasur, menarik selimut hingga sebatas dada. Strategi utamanya: pura-pura tidur agar terhindar dari interogasi.

Nenek masuk perlahan, melihat cucunya yang tengah "tidur ayam". Beliau hanya tersenyum maklum, lalu duduk di pinggiran ranjang. Tangannya yang berkeriput mengusap kaki Shafira dengan lembut. “Fira, Nenek mau cerita sesuatu. Fira mau dengar?”

Sadar akal bulusnya gagal, Shafira menyerah. Ia duduk bersila, menatap wajah renta di hadapannya. “Mau, Nek. Nenek mau cerita apa?”

Lihat selengkapnya