Selepas salat subuh, Shafira berkali-kali mengambil dan melemparkan ponselnya ke atas ranjang dengan gelisah.
Hatinya begitu gemas dan tak sabar menunggu balasan pesan WhatsApp Alina yang telah dicurhatinya panjang lebar mengenai ganjalan hatinya.
Jempolnya sempat ragu di atas layar saat membaca ulang pesannya. Shafira menyadari ketidaksopanannya mengganggu wanita yang telah bersuami untuk berkeluh kesah mengenai problematika yang pastinya berbeda level dengan Alina sekarang.
Alina yang telah disibukkan dengan aktivitas barunya sebagai nyonya rumah tangga.
Tapi Shafira tidak tahan. Ia betul-betul membutuhkan sahabatnya untuk berkonsultasi. Dan kali ini tidak main-main, demi masa depannya dan juga permintaan nenek, Shafira akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran taaruf dari Bu Sari. Ia hanya membutuhkan Alina yang biasanya sevisi dan sepikiran dengannya untuk memantapkan hati sebelum ia menghubungi Bu Sari guna memberitahukan keputusannya itu.
Untunglah tepat pukul enam pagi, Alina segera menelepon Shafira yang sedang asyik mondar-mandir mengelilingi kamarnya tanpa juntrungan.
“Assalamualaikum, Fira. Gini, nanti sebelum masuk kelas kita ketemu di parkiran saja ya, soalnya sekarang ini aku lagi heboh nyiapin sarapan buat suami nih. Kasihan Bang Fathir mau ke luar kota, ada undangan di sana!” nada suara Alina terdengar panik di telepon.
Jika saja suasana hati Shafira tidak sedang genting, pastinya ia akan tertawa terbahak-bahak membayangkan Alina di rumahnya sana yang tengah pontang-panting menyiapkan sarapan untuk suaminya, mengingat gadis itu tidak pernah berminat pada urusan masak-memasak sebelumnya.
Tapi sebelum Shafira sempat melontarkan kata-kata menjawab salam, Alina telah mendahuluinya segera, “Nanti saja hubungi Bu Sarinya agak sorean. Oke? Sudah dulu ya, assalamualaikum!”
Klik. Telepon ditutup.
“Waalaikumsalam dan waalaikumsalam, Lin,” Shafira menjawab lirih salam awal dan akhir Alina yang belum sempat terjawab. Ia tidak sabar menunggu jam kuliahnya yang baru akan digelar jam 10 pagi.
Dengan hati resah, Shafira tiba di kampusnya pukul setengah sepuluh pagi. Kepalanya ditolehkan ke segala arah di tempat parkir untuk mencari sosok Alina yang selalu janjian menunggunya di tempat parkir kampus.
Mereka biasa menjejeri langkah bersama ke ruangan kelas masing-masing walaupun berbeda jurusan dan semester.
Dua puluh menit sebelum perkuliahan dimulai, barulah Honda Supra Alina menampakkan diri memperlihatkan wajah pengendaranya dengan kaca helm terbuka lebar menampakkan senyum innocent khas Alina.