Karena Kita Tak Butuh Dua Kaki ke Surga

Vina Marlina
Chapter #8

Taaruf

Alina dan Raya yang telah mengetahui respons positif Shafira terhadap proses taaruf merasa sangat bahagia. Terlebih Bu Sari pun telah mengonfirmasi permintaan Ahmad Furqon yang berharap pertemuannya dengan Shafira bisa diadakan dalam waktu dekat.

​Alina dan Raya bergantian mendukung sahabatnya itu seraya menyisipkan beberapa poin penting yang harus dilakukan saat pertemuan nanti. Satu poin terpenting yang terekam jelas dalam memori Shafira adalah: KEJUJURAN. Poin inilah yang memaksanya memutar otak untuk mencari strategi penyampaian yang tepat agar dapat menceritakan tentang dirinya secara terbuka, tanpa bermaksud membongkar aib keluarga.

Karena alasan itu pula, Shafira sengaja belum memberitahu kedua orang tuanya. Ia lebih memilih menunggu kejelasan hasil taaruf ini terlebih dahulu—apakah akan berlanjut atau berhenti—agar ia bisa bicara dengan yakin kepada mereka nanti.

Beberapa hari berselang, pertemuan itu pun terjadi di kediaman Shafira.

Nenek tampak paling bersemangat. Sejak pagi, aroma panggangan brownies dan masakan rumahan sudah memenuhi udara. Meja makan tertata rapi dengan berbagai suguhan, mencerminkan harapan besar beliau agar pertemuan ini membuahkan hasil yang manis.

Nenek, Shafira, Bu Sari, serta suaminya telah berkumpul di ruang tamu ketika pukul sepuluh pagi bel pintu berbunyi.

Jantung Shafira berdetak kencang, seolah ingin melompat dari dadanya. Hari itu ia mengenakan setelan rok dan baju panjang hijau kasual yang sopan. Ia merasa sangat salah tingkah dan gugup tak keruan ketika suami Bu Sari, Ustaz Ahmad, membukakan pintu.

“Assalamualaikum,” terdengar suara pria yang berat dan dalam menyeruak ke seluruh ruangan.

Refleks, Shafira menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang terasa memanas.

“Waalaikumsalam. Mangga, silakan masuk, Nak Furqon. Ayo, silakan duduk dulu,” sambut Ustaz Ahmad hangat.

Suara Nenek terdengar ikut menimpali dengan ceria, “Aduh, tadi jam berapa datang dari Yogya? Kasihan, sudah datang jauh-jauh ya?”

Dari sudut matanya, Shafira melihat Nenek bangkit dari kursi, pasti sedang mengajak Furqon bersalaman. Shafira tetap bergeming, terpaku di kursinya dengan kepala tertunduk.

“Tidak, Bu. Kebetulan saya sudah indekos di sekitar Dago. Insyaallah, kalau semuanya positif, saya akan segera mengajak orang tua saya dari Yogya untuk bersilaturahmi ke sini,” jawab Furqon dengan nada sopan yang justru membuat Shafira makin gemetar.

“Insyaallah, mudah-mudahan semuanya lancar sampai nikah dan setelah nikah. Jadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah. Amin,” doa Nenek sepenuh hati, diiringi tawa kecil dari Bu Sari dan suaminya.

Harapan Nenek yang begitu gamblang membuat wajah Shafira makin memerah. Tanpa sadar, jari-jarinya memelintir ujung jilbab hijaunya dengan gelisah.

Pertemuan itu terasa begitu padat. Kesantunan Furqon, gaya bahasanya yang lugas dan cerdas, ditambah keterusterangan serta kerendahhatiannya membuat hati Shafira kian berbunga-bunga.

Hingga akhirnya, tibalah waktu bagi Shafira untuk melaksanakan "misi" jujurnya. Dengan suara terbata-bata dan menguatkan hati, ia menceritakan latar belakang keluarganya. Setelah selesai, suaranya terdengar serak.

“Begitulah keadaan keluarga saya, Mas Furqon. Sebelumnya saya minta maaf kalau mungkin ada perkataan saya yang terdengar tidak pantas. Demi Allah, cerita saya ini bukan dimaksudkan untuk membuka aib keluarga, tapi saya hanya ingin berusaha jujur dan apa adanya.”

Lihat selengkapnya